Thursday, March 16, 2017

Kemala

Entah kenapa ia tak pernah percaya pada hal yang sempurna. Ia lebih menyukai buku yang agak mengembang karena telah dibaca daripada buku rapih di etalase toko. Menurutnya, sempurna itu dingin. Dan itulah yang ia rasakan pada Ikra, semua kriteria yang ia bayangkan ada pada seorang pria ada pada Ikra. Ia menawarkan kemapanan, rasa aman, cerdas dan tampan. Sebuah gambaran akan sempurna. Tapi entah kenapa semua hal itu tak membuatnya merasa yakin. Ketika bertemu dengannya ia merasa nyaman tapi ia tak menantikan saat untuk bertemu dengannya lagi. Kalau ada kata yang tepat menggambarkan relasi mereka, mungkin efisien adalah kata yang tepat. Dunia mereka banyak beririsan. Teman-teman Ikra menyukai Kemala dan sebaliknya. Mereka sangat fungsional bersama, namun ia merasa hampa.

Hidup seharusnya sederhana. Ikuti logika dan semuanya akan baik-baik saja. Ambil keputusan-keputusan strategis dan ia akan jauh dari tangis. Tapi semua pemahaman ini tetap tak meyakinkannya untuk berlabuh. 

No comments:

Jakarta

Satu dekade telah berlalu semenjak aku bekerja di kota itu. "Aku tak mau bekerja di sana lagi," batinku. Rupanya satu dekade adala...