Thursday, December 08, 2016

Pemalu

Senin itu aku bertemu dengan guru SD yang menjadi wali kelasku selama 4 tahun. Beliau bilang, aku banyak berubah, dulu aku tak banyak bicara dan pemalu tapi sekarang tampil percaya diri di hadapan banyak orang. Pada saat aku bertemu dengan beliau, aku menjadi pembicara untuk workshop bagi guru-guru SD se-Tangerang Selatan. Menjadi pembicara dan pemalu mungkin memang jauh dari bayangan. Dan mungkin beberapa bulan lalu aku juga tidak bisa membayangkan berbicara di depan puluhan hingga seratus orang. Ada sebagian diriku yang masih merasa jengah di antara kerumunan. Namun seiring dengan berjalannya waktu dan kewajiban, aku mulai bisa berbicara di depan orang. Aku tak bisa bilang suka, hanya bisa. Mungkin itu salah satu arti menjadi dewasa, kau mulai melakukan hal-hal yang tak kau suka atas nama tanggung jawab dan profesionalisme, padahal yang sebenarnya kau inginkan adalah sembunyi di balik bantal.

Mungkin hal itu pula yang akhirnya membuatku memilih bendera putih. Aku tak punya energi untuk menciptakan pembicaraan manakala energiku telah habis untuk berbicara dengan beragam orang. Aku hanya ingin bercerita atau mendengarkan cerita, mengetahui apakah dia baik-baik saja. Tapi tampaknya itu mustahil.

2 comments:

Anonymous said...

mungkin dia memang mencari orang yang paham bahasa sunyi yang diucap tanpa suara dan dikenal tanpa isyarat.

Anonymous said...

jejak yang menunggu untuk dipecahkan lebih baik daripada ruang hening yang mencekam. karena lawan cinta bukanlah benci, melainkan dilupakan.

Jakarta

Satu dekade telah berlalu semenjak aku bekerja di kota itu. "Aku tak mau bekerja di sana lagi," batinku. Rupanya satu dekade adala...