Saturday, August 13, 2016

Kay

Kay membiarkan kopi hitamnya dingin. Rasa pekat yang biasanya membuat ia bersemangat, kini terasa terlalu menyengat. Pahit. Perasaan yang juga ia rasakan terhadap Kala, pria yang belakangan ini menjadi mimpi buruknya. Ia ingin pria itu bahagia tapi tidak dengan mengorbankan kebahagiannya sendiri.

Beberapa muda-mudi mengambil meja dekat Kay duduk. Ia memandang arlojinya, angka pendek mendekati angka 5, waktu orang-orang keluar kerja. "Mungkin aku harus mulai beranjak," pikir kay dalam hati. Ia tak pernah menyukai keramaian meski kadang ia suka bersembunyi dalam keramaian itu. Berada dalam kerumuman manusia untuk larut dalam pikirannya sendiri. Ia suka memandangi manusia. Menculik secuplik adegan dari apa yang ia lihat untuk kemudian menggubahnya dalam dunia imaji. Ia ingin semua orang bahagia, tapi entah kenapa ia merasa tertekan.

"Sudah mau beredar lagi Kay?" sapa Bagas ketika Kay membereskan laptop metaliknya.
"Yep, memberi ruang bagi pelanggan kamu selanjutnya. Ciao."
"Bye."

Suhu luar beranjak menurun meski masih terlalu panas untuk berjalan terlalu lama di luar ruangan. Masih ada satu tulisan yang harus ia selesaikan tapi pikirannya menolak untuk bekerjasama. Kala dan segala tindakannya membuat ia sakit kepala.

No comments:

The Extra Mile

The difference between good and great is the extra mile. Doing things even when it is not requested  because you care. So when people asked ...