Wednesday, May 18, 2016

Kemala

“Kau tahu apa yang menyebalkan dari semuanya ini? Dunia tampak tak sama lagi. Sunyi tampak terlalu hening, sendiri terasa sepi. Hal yang dulunya biasa kini tampak asing. Seolah-olah kau kehilangan kesetimbangan hanya karena tak mendengar kabar darinya.”

“Tapi kau selalu bisa menyapa duluan bukan?”

“Tentu saja, tapi aku tidak tahu kemana semua ini aku berakhir. Aku takut kalau aku jatuh terlalu dalam aku tak bisa pulih atau setidaknya, tidak dalam waktu singkat. Sekarang saja aku merasa kesetimbanganku telah kacau. Aku tidak yakin aku mau membuat kesetimbangan baru untuk sesuatu yang tidak pasti dan ditentang oleh banyak orang.”

“Always trying to please others are not you?”

“There are moments when I thought I can handle this, that our feelings are the most important thing. We will manage somehow. But with everyone else saying the opposite, it is difficult to keep the positive vibe.”

“So what are you going to say to Ikra?”

“Aku tidak tahu. The good thing about him is that he can see right through me. When we first met, he dared me to go out with him since he knew that for me is always a struggle between routines and dare. Dia tahu aku senang pada hal-hal pasti, struktur yang menjamin semua tindakan impulsifku akan berakhir baik-baik saja. Di sisi lain, dia bisa memancing kebiasaan impulsifku untuk melakukan sesuatu di luar rutin. Aku merasa senang bersamanya, tapi aku tidak tahu apakah dia bisa memberiku rasa aman. Dan yang terakhir itu yang aku butuhkan kalau hubungan ini mau diteruskan.”

No comments:

Jakarta

Satu dekade telah berlalu semenjak aku bekerja di kota itu. "Aku tak mau bekerja di sana lagi," batinku. Rupanya satu dekade adala...