Posts

Showing posts from March, 2016

Right

If being with you allows me to be rationale
Then reducing the dose of you
Is the right thing to do

Menjadi Dewasa

... rasanya mengerikan. Menghadapi masalah, alih-alih melarikan diri. Aku benci mengambil keputusan yang aku tahu akan membuat seseorang sedih tapi harus aku lakukan. Aku benci perasaan menyengat itu. Di sisi lain, aku merasa lega karena semua jadi jelas. Aku tahu ini yang terbaik, tapi kenyataan itu tetap saja tidak membuat semuanya lebih mudah.
Mungkin aku harus lebih membiasakan diri dengan konflik. Membuat keputusan-keputusan yang tidak populer untuk sesuatu yang benar. 
Entahlah, kadang aku malas beranjak dari zona nyaman dimana orang-orang menawarkan diri untuk melakukan hal-hal yang tidak aku sukai. Tapi seperti yang dosenku pernah bilang, 'dia melakukan hal-hal kecil untukku, karena dosennya melakukan hal yang sama.' 
Mungkin ini saatnya untuk melanjutkan tongkat estafet itu ...

Perfection

Cannot ask for a better one
Since perfection is you

Single

... between being polite and not creating expectation
... about saying I am not interested without hurting the other side

I am flattered

But I do not share the same feeling as you
and I do not know what to do


Ikra

Kemala adalah enigma. Kadang Ikra berpikir ia telah mengerti segalanya tentang Kemala. Ekspresi Kemala transparan ketika ia sedang bimbang ataupun bahagia. Tanpa perlu berkata-kata, Ikra bisa tahu apa yang ada dalam benak Kemala. Namun kadang ia tak yakin apakah ekspresi memiliki arti lebih dalam dari apa yang tampak. Seperti saat makan siang dengan Rangga dan Kinan. Untuk sesaat ia seperti melihat Kemala yang belum pernah dikenalnya. Mata yang menggelap sebelum ia kembali tersenyum ramah. Sepersekian detik yang membuat ia yakin bahwa Kemala dan Rangga tak pernah benar-benar menjadi teman baik. Yang ironis adalah ia bisa dengan mudah membayangkan Kemala dan Rangga bersama. Bayangan yang segera membangkitkan perasaan tak nyaman. Ia cemburu pada masa lalu. Bagian hidup Kemala yang ia pilih untuk tidak tahu.

Kemala

Hanya perlu sebuah lagu untuk membuka episode itu kembali. Episode yang ia kira telah berhasil ia lalui dengan baik. Tapi ia tak bisa lebih salah lagi. Tanpa bisa ia cegah, Kemala teringat episode saat ia dan Rangga masih bersama. Hal yang menyebalkan dari terlalu lama bersama adalah kau jadi terlalu terbiasa dengan segala hal tentang dia. Dalam kenangan, Rangga tampak sempurna. Tapi itu tak mungkin benar bukan? Kalau iya, mereka masih akan bersama.
Damn you, radio!

Game

Being in a game
Without knowing how to move to the next level
You either get bored or you find a way
To move forward

Closure

Will it be better if we meet
To see whether your feeling is still the same
To be able to continue your life
Without me as part

Entangled Memories

The day for me to return to the Netherlands is approaching. And I have mixed feelings. A bit of nervous, a bit of longing and a bit of fear that I will have to adjust everything again once I return to Indonesia. There are too many people and things that I love there. I am not good at saying goodbyes and I do not think I will ever be good. So here I am listening to Charli XCX's music since it was taken in Amsterdam. Looking at the city gives me a nostalgic feeling, the smell, the streets and the memories. I do not know what I love the most. Maybe it's the people, maybe it's the certainty, maybe it's the city or maybe for unknown reason, it's the way the country made me feel safe.

Dia

Aku tahu membandingkan satu orang dengan lainnya adalah kejam. Bagaimana mungkin sejarah seseorang yang berbeda direduksi menjadi sederet variabel yang sama. Tiap orang unik.  Titik.  Peduli tak harus merupa dalam wajah yang seragam. Namun tatkala yang lain memberi kepastian,  salahkah aku kalau menginginkan hal yang sama dari dia?

Kemala

"Hi Rangga, sini," ujar Ikra ketika ia melihat Rangga melintas.
"Kemala, kenalkan ini Rangga, teman baik saya sejak belasan tahun silam. Dan istrinya Kinanti."
"Hallo, Mala. Senang bertemu lagi dengan kamu. Apa kabar?" sapa Kinan.
"Wah, kalian sudah saling mengenal. Dunia ini kecil," ujar Ikra sambil tersenyum tanpa memperhatikan raut wajah Kemala dan Rangga yang berubah.
"Kalian teman dimana?" tanya Ikra pada Kinan.
"Kemala teman baik Rangga saat kuliah," jawab Kinan.

Teman baik. Kemala tak tahu apakah kedua kata itu pernah ada didalam kehidupannya dan Rangga. Mereka berkenalan melalui teman bersama dan sejak itu hubungan mereka tak terdefinisi. Perasaan Kemala terlalu terikat pada Rangga, pun sebaliknya. Kalau tidak makan siang bersama di kampus, mereka akan saling bertukar sapa melalui telepon semalaman. Ketika semuanya berakhir, mereka memutuskan untuk menghilang bagi satu sama lain. Saat itu ia masing sangat sayang pada …