Sunday, January 17, 2016

Ikra

"Hi, maaf saya telat. Sudah lama menunggu?"
"Ngga kok. Saya yang datang terlalu cepat."
"Oh ...," balas Kemala sambil menarik kursi dan meletakkan tas kantornya
"Langsung dari kantor?" tanya Ikra saat Kemala sudah duduk.
"Iya, kelihatan sekali dari bawaan saya ya?" jawab Kemala sambil tersenyum.
"Ngga, tapi karena kamu belum membalas pesan saya dari tadi siang. Biasanya itu terjadi kalau kamu lagi tenggelam dalam dunia arsitekmu."
"Iya, tadi sesorean rapat untuk mempersiapkan proposal baru. Mau cerita apa atau perlu saya baca sekarang?" tanya Kemala sembari mengerlingkan matanya.
Ikra tahu ia takkan bisa marah dengan tatapan itu. "Puisi saya akan dijadikan lagu."
"Selamat ya Kra. Saya sangat senang untuk kamu," sambil meremas tangan Ikra. "Jadi kita akan pesan apa untuk merayakan?"
"Apapun yang kamu mau."
"Yeay."

Dulu ia sangat ahli dengan melakukan segala sesuatunya sendiri. Kini ia tak yakin lagi. Ia masih punya banyak mimpi tapi kini mimpi itu tampak tak lengkap tanpa senyum Kemala. Sempurna adalah ketika ia melihat Kemala tersenyum atas hal-hal kecil yang dicapainya. Ia seorang yang perfectionist dan hal itu memacunya untuk menguji batas. Kemala tidak mengubah sisi perfectionist dalam dirinya, ia hanya menambahnya dengan hal-hal kecil yang dulu tak pernah menarik minatnya. Dan dalam banyak hal mereka serupa. Kadang Kemala suka tenggelam dalam dunia menggambarnya, sedangkan ia larut dalam kode-kode pemrograman. Ketika itu terjadi, Ikra dan Kemala seperti berada dalam dunia yang berbeda. Tapi mereka selalu tahu cara untuk menemukan satu sama lain. Dan itu membuat Ikra nyaman.

No comments:

Tango

It takes two to tango ... if someone does not share the same interest as you, the dance will fall apart or worse, you will get hurt. One o...