Skip to main content

Kangen itu ...

ketika beragam rupa menyublim menjadi satu
ketika ingatan lama tak bisa enyah meski ratusan ingatan baru tercipta
ketika pergi belanja dan teringat barang-barang kesukaannya
ketika kau tak bisa lagi tersenyum saat ia tiada

Comments

Langit said…
i'm not moviiiiiing.....i'm not moviiinggg. *numpang nyanyi* :D
Yuti Ariani said…
haha, move on itu susah banget

Popular posts from this blog

Pernyataan Tujuan

Fu... dalam form program pasca, salah satu persyaratannya adalah membuat lembar pernyataan tujuan. Aku bisa saja membuat karangan mengenai tujuanku itu, soalnya kalau udah menyangkut beberapa hal yang detil, sebenarnya aku ngga yakin juga tujuanku apa, tapi opsi itu tampaknya akan kucoret, karena aku sendiri penasaran sebenarnya mau kemana. Apalagi kalau membandingkan jawaban salah seorang profesor yang baru aku wawancarai, tujuan hidupnya sudah beliau gariskan semenjak duduk di bangku SMP, sedangkan aku sampai sudah lulus S1 masih belum ada gambaran kedepannya mau gimana.

Waktu ngobrol ama calon dosenku, aku ditanya kenapa milih Matematika. Sebenarnya banyak banget yang mengajukan pertanyaan itu padaku, dan jawaban yang aku berikan pun bergantung pada mood, ya MBA(Math By Accident)lah, karena menarik, karena ngga tau lagi mau ngitemin apa padahal pilihan di form UMPTN ada 3(aku milih IPC), dsb. Tapi waktu aku ditanya ama calon dosenku itu, jawabanku bukan jawaban yang biasa aku kasih,…

Waiting For Godot

Dapat istilah dari salah satu cerita teater antah berantah... mungkin artinya benar mungkin ngga lagipula ini kan blog pribadi. Hmm.. berhubung otakku baru keracunan beresin TA, aku mencoba disiplin dengan kata-kata yang aku gunakan, jadi meski ini jadinya hanya definisi pribadi, setidaknya aku mencoba konsisten dalam dimensi yang aku bikin sendiri, kaya ruang Hilbert, atau kaya ruang anti-gravitasi dalam Harry Potter sampai-sampai ada pertandingan Quidditch.

Definisiku tentang waiting for godot adalah menunggu dalam kondisi yang tidak pasti. Ngga tau harus berapa lama lagi, bahkan ngga tau yang ditunggu bakal dateng apa ngga. Tapi mungkin aku sudah berdamai dengan keadaan seperti ini, karena terlalu sering ngalamin, dengan sebuah atau dua buah buku bekal di tas, rasanya aku ngga perlu lagi menggunakan waktuku untuk kesal. Lagipula kalau batas toleransi sudah habis, aku tinggal pencet beberapa huruf di hp, dan selamat tinggal godot.

Sama seperti yang kulakukan kali ini, entah kenapa kon…

Kucing Schrodinger

“Kucing ini ditempatkan di boks tertutup bersama sebuah kapsul berisi racun sianida, dan sebuah pemicu yang aktif ketika satu isotop radioaktif menembakkan sebuah elektron. Peluangnya fifty-fifty. Apabila elektron mengenai tombol on, maka kapsul itu pecah, dan kucing mati. Kalau elektron tidak menyentuh pemicu itu, si kucing tetap hidup. Dalam waktu satu jam, baru akan ada pengamat yang membuka boks dan melihat hasilnya. Pertanyaannya, apa yang terjadi pada si kucing selama selama boks itu tidak dibuka?”(taken from Supernova, Dee, h.157)

Dalam versi yang lebih formal, elektron, sebelum fisikawan menentukan bagaimana menelilitinya, elektron itu bukan gelombang bukan pula partikel. Ia berada dalam keadaan setengah partikel-setengah gelombang. Kondisi antara. Hahaha, dasar pecinta relativitas! Semuanya dipandang sebagai keadaan eksperimental. Kehidupan yang didasarkan pada pengalaman-pengalaman subjektif. Lucunya, meski matematika selalu dikelompokkan pada ilmu pasti, wacana yang keluar d…

Buku, Cinta dan Kehidupan

Buku itu tersembunyi dibalik tumpukan teenlit dan chicklit. Namun saat aku sudah hendak membayar buku pertama, sebuah nama membuatku tertegun, Susanna Tamaro. Nama itu langsung membawa ingatanku menyelami halaman-halaman buku catatan seorang nenek pada cucunya. Saat aku membaca bagian belakang sampulnya, disebutkan: Buku ini bercerita tentang sifat-sifat jahat, perjuangan untuk hidup tanpa rasa takut, serta pencarian cinta. Tanpa pikir panjang, akhirnya aku memutuskan untuk membeli dua buah buku. Karena Winn-Dixie(Kate DiCamillo) dan Jawablah Aku(Susanna Tamaro). Teh Ani dalam lingkar studi sastra pernah bertanya, “Apa alasan Yuti membaca buku sastra?” Saat itu aku menjawab untuk menambah wawasan. Namun wawasan itu aku klasifikasikan lagi menjadi beberapa bagian: melatih imajinasi, mengasah kepekaan, membuatku berpikir, mengoyak kemapananku dan merenungkan siapa diriku. Buku-buku yang melatih imajinasi serta kreativitas aku temukan dalam petualangan Harry Potter, Lima Sekawan, Sirkus …