Skip to main content

The Other Side

One of my docents told me that he had been invited by the Army to present his view about the conflict in Mali. Suddenly, he moved from being an outsider to an insider. The question is not only about  being critical but also about being strategical and at the same time, to conserve the idealism. He mentioned that there were many consultancies that were already involved in giving advice for the Ministry but most of them did not know the real situation. So Ferguson (1990) and Mosse (2004) all over again. Wrong approach because of wrong assumptions and consultancy agency talked in the language of the clients (on efficiency in military operation) and not about the real situation in Mali. Different epistemic tradition, where he had to talk to man in uniform with different openness and also a shift in strategy from critical to strategic. 

The discussion related with our earlier discussion about identity and struggle. Identity is always being contested in different situations. There is evil in good things and there is good things in evil. As one of my favorites proverb says 'the road to hell is paved with good intentions.' Being an insider creates an opportunity for greater change but probably it may also change one into a different person via all the negotiations and bureaucratic details. 

Comments

Ositus.com said…
yes we know about that
kutukamus said…
Hi Yuti. I like the way you keep some distance to the topic here (i.e. about 'sides'), maintaining your objectivity. Yet, some details fail me:
1. Is your docent a Malian?
2. Army/Ministry? Who[se]? The Malian?


But most of all, I don't quite understand what you mean by the term 'insider' here, in this context. I mean, if that docent of yours is, say, a Dutchman, then being part of the 'think tank' doesn't make him a Malian (the way I see it, we can still consider him as an 'outsider'—a foreigner, who just happens to be favored by one of the conflicting parties). Just curious. :)
Yuti Ariani said…
Hi kutukamus, thanks for your interesting questions. I guess I am a bit bias since I have the tendency to stand on the local people side and not on the military side. I did not write the nationality of my docent for privacy issues. We talked casually about sensitive issues so I did not want to put him into trouble.

Popular posts from this blog

Pernyataan Tujuan

Fu... dalam form program pasca, salah satu persyaratannya adalah membuat lembar pernyataan tujuan. Aku bisa saja membuat karangan mengenai tujuanku itu, soalnya kalau udah menyangkut beberapa hal yang detil, sebenarnya aku ngga yakin juga tujuanku apa, tapi opsi itu tampaknya akan kucoret, karena aku sendiri penasaran sebenarnya mau kemana. Apalagi kalau membandingkan jawaban salah seorang profesor yang baru aku wawancarai, tujuan hidupnya sudah beliau gariskan semenjak duduk di bangku SMP, sedangkan aku sampai sudah lulus S1 masih belum ada gambaran kedepannya mau gimana.

Waktu ngobrol ama calon dosenku, aku ditanya kenapa milih Matematika. Sebenarnya banyak banget yang mengajukan pertanyaan itu padaku, dan jawaban yang aku berikan pun bergantung pada mood, ya MBA(Math By Accident)lah, karena menarik, karena ngga tau lagi mau ngitemin apa padahal pilihan di form UMPTN ada 3(aku milih IPC), dsb. Tapi waktu aku ditanya ama calon dosenku itu, jawabanku bukan jawaban yang biasa aku kasih,…

Waiting For Godot

Dapat istilah dari salah satu cerita teater antah berantah... mungkin artinya benar mungkin ngga lagipula ini kan blog pribadi. Hmm.. berhubung otakku baru keracunan beresin TA, aku mencoba disiplin dengan kata-kata yang aku gunakan, jadi meski ini jadinya hanya definisi pribadi, setidaknya aku mencoba konsisten dalam dimensi yang aku bikin sendiri, kaya ruang Hilbert, atau kaya ruang anti-gravitasi dalam Harry Potter sampai-sampai ada pertandingan Quidditch.

Definisiku tentang waiting for godot adalah menunggu dalam kondisi yang tidak pasti. Ngga tau harus berapa lama lagi, bahkan ngga tau yang ditunggu bakal dateng apa ngga. Tapi mungkin aku sudah berdamai dengan keadaan seperti ini, karena terlalu sering ngalamin, dengan sebuah atau dua buah buku bekal di tas, rasanya aku ngga perlu lagi menggunakan waktuku untuk kesal. Lagipula kalau batas toleransi sudah habis, aku tinggal pencet beberapa huruf di hp, dan selamat tinggal godot.

Sama seperti yang kulakukan kali ini, entah kenapa kon…

Kucing Schrodinger

“Kucing ini ditempatkan di boks tertutup bersama sebuah kapsul berisi racun sianida, dan sebuah pemicu yang aktif ketika satu isotop radioaktif menembakkan sebuah elektron. Peluangnya fifty-fifty. Apabila elektron mengenai tombol on, maka kapsul itu pecah, dan kucing mati. Kalau elektron tidak menyentuh pemicu itu, si kucing tetap hidup. Dalam waktu satu jam, baru akan ada pengamat yang membuka boks dan melihat hasilnya. Pertanyaannya, apa yang terjadi pada si kucing selama selama boks itu tidak dibuka?”(taken from Supernova, Dee, h.157)

Dalam versi yang lebih formal, elektron, sebelum fisikawan menentukan bagaimana menelilitinya, elektron itu bukan gelombang bukan pula partikel. Ia berada dalam keadaan setengah partikel-setengah gelombang. Kondisi antara. Hahaha, dasar pecinta relativitas! Semuanya dipandang sebagai keadaan eksperimental. Kehidupan yang didasarkan pada pengalaman-pengalaman subjektif. Lucunya, meski matematika selalu dikelompokkan pada ilmu pasti, wacana yang keluar d…

Buku, Cinta dan Kehidupan

Buku itu tersembunyi dibalik tumpukan teenlit dan chicklit. Namun saat aku sudah hendak membayar buku pertama, sebuah nama membuatku tertegun, Susanna Tamaro. Nama itu langsung membawa ingatanku menyelami halaman-halaman buku catatan seorang nenek pada cucunya. Saat aku membaca bagian belakang sampulnya, disebutkan: Buku ini bercerita tentang sifat-sifat jahat, perjuangan untuk hidup tanpa rasa takut, serta pencarian cinta. Tanpa pikir panjang, akhirnya aku memutuskan untuk membeli dua buah buku. Karena Winn-Dixie(Kate DiCamillo) dan Jawablah Aku(Susanna Tamaro). Teh Ani dalam lingkar studi sastra pernah bertanya, “Apa alasan Yuti membaca buku sastra?” Saat itu aku menjawab untuk menambah wawasan. Namun wawasan itu aku klasifikasikan lagi menjadi beberapa bagian: melatih imajinasi, mengasah kepekaan, membuatku berpikir, mengoyak kemapananku dan merenungkan siapa diriku. Buku-buku yang melatih imajinasi serta kreativitas aku temukan dalam petualangan Harry Potter, Lima Sekawan, Sirkus …