Posts

Showing posts from September, 2013

Chocolate

"Life was like a box of chocolates. You never know what you're gonna get." --Forrest Gump

Dan melihat beragam informasi nama dan wajah sama sekali tidak membantu menjawab pertanyaan hal seperti apa yang akan aku dapat. Seperti biasa aku memilih untuk menjadi pengecut. Mengabaikan semua pesan yang masuk ke dalam kotak surat.

Kirana

Sendiri. Lagi. Dua minggu pertama terasa sulit. Namun menginjak minggu ketiga tidak menghubungi Rangga terasa biasa. Ia bisa kembali menjadi dirinya yang dulu. Mandiri tanpa selalu berharap teleponnya berbunyi. Genap dua bulan sudah ia tidak berkomunikasi dengan Rangga. Satu bulan silam pesan Rangga bisa ia jumpai dimana-mana. Pesan singkat, suara di mesin penjawab, surat di kotak surat apartemennya hingga pesan dari teman sekantornya. Berhubungan dengan Rangga seperti bermain yoyo, pikirnya. Tarik ulur hingga ia lelah. Tiap kali ia membuat jarak, tiap kali pula Rangga menggila. Dan tiap kali ia melunak dan luluh, Rangga mulai menjauh.

Mungkin mereka memang tidak ditakdirkan bersama. Mereka berdua memiliki masalah dalam komitmen. Tiap kali hubungan mereka menjadi serius, pasti ada yang lari ketakutan ...

Rangga

Belum ada kabar dari Kirana ... Ia telah meninggalkan beragam jejak di telepon genggam Kirana, kata hingga suara. Namun hanya hening yang ia dapat. Dua bulan lalu ia menginginkan keheningan ini, sekarang ia merasa kalau hening itu seperti mengejek kebodohannya. Rangga tidak pernah mengira kalau kangen bisa sedemikian menyiksa. Otaknya tak henti memutar imaji ketika ia terakhir berbicara dengan Kirana. Dan ... kian sering ia memutarnya, ia kian yakin bahwa semua ini kesalahannya.

Ia bodoh

Anak Kecil

Apa yang kau rasakan jika ada seseorang yang ketika melihatmu datang akan langsung berlari untuk memelukmu? Rasanya ajaib. Ketika kau beranjak dewasa, kadang perasaan menggebu-gebu itu tak lagi tampak. Kau akan menyapa santun, memberi kecupan ringan atau sebuah pelukan sayang. Berbeda dengan anak kecil yang ekspresif. Dan ketika dia mulai bisa menyebut namamu, dunia terasa sempurna. 
*sindrom paruh baya*


Rangga

Say something, I'm giving up on you.
I'll be the one, if you want me to.
Anywhere, I would've followed you.
Say something, I'm giving up on you.
(A great big world)

Satu bulan tanpa kabar dari Kirana. Ia yang memilih pergi tapi kenapa ia merasa kalau ia yang ditinggalkan?

Kirana

Rangga pergi mendaki meski ia meneteskan air mata. Namun entah kenapa ia merasa lega. Kepergian Rangga memberinya ruang untuk berpikir tentang dirinya sendiri. Daripada mengambang, mungkin akan lebih baik kalau semuanya diakhiri saja. Ia mengerti Rangga. Ia mengerti mengapa ia harus mendaki meski ia tak menyukainya. Mungkinkah dua orang yang saling mencintai bisa saling menyakiti? Entah sejak kapan ia mulai mencandu pesan-pesan singkat dari Rangga. Kalau sebelumnya ia bisa mandiri kini sendiri tak lagi memiliki makna. Rangga sebaliknya. Kalau dulu ia sering memberi kejutan pada Kirana, kini ia berubah acuh. Mereka berdua berjalan ke arah yang berbeda. Dan ketika semuanya tak lagi sejalan, masih perlukan ia bertahan?

Mungkin ia perlu menciptakan jarak. Kembali ke dirinya sebelum ada Rangga. Ketika ia bisa menaklukan semuanya sendirian. Bukankah sendiri hanya ilusi para penulis atau sineas untuk mendramatisasi keadaan?

Ia tidak akan menghubungi Rangga untuk satu bulan kedepan tekadnya.

Rindu Lalu

Kala aku masih menjadi segala
Melintas ruang menembus batas
Menjadi apa yang aku mau
Tanpa ragu yang membelenggu

Mungkin aku telah beranjak dewasa
Mencoba menelan semua dengan logika
Meninggalkan imaji
dan tenggelam dalam sunyi