Posts

Showing posts from November, 2012

Episode Merah Jambu

... yang bertahan kurang dari satu minggu
Selain akademik tampaknya tidak ada lagi yang menarik
Jadi tampaknya aku menemukan titik
Akhir dari segala kegilaan yang kini terasa konyol
meski hidup kini menjadi hidup lagi ...

Journey

Image

Putih

ternyata aku tak bisa dengan hitam sesak dengan kelam pun jika warna itu perantara yang mungkin memang tak boleh ada

Hitam & Teh

memulai lembaran baru dengan hitam ...  dan ingat itu warna yang selalu kau pakai mulai kembali minum teh ...  karena kau pernah membuatkannya untukku

Jejak

Setelah lama tak meninggalkan jejak di halaman maya ini, aku mulai menulis kembali. Mungkin aku harus cemas, karena biasanya kata berjalan seiring dengan rasa, dan untuk yang satu ini, aku tidak mau itu terjadi. Aku merindukan rasa itu tapi tidak dengan cara ini. Mungkin aku harus berhenti membekukan waktu lewat guratan kalau itu hanya membuatnya semakin dalam dan pasti. Aku harus berhenti, tapi entah kenapa aku mulai menantikan irisan-irisan yang mungkin terjadi.

Damn!

Tentang Dia

Entah kenapa aku tak tahu apa yang kurasa tentang dia. Aku senang ketika dia tanpa alasan duduk di ruangan dan berbagi udara yang sama. Bingung ketika dia mengucapkan terlalu banyak kata maaf karena mengambil waktuku, seakan kebersamaan bisa diciptakan oleh satu orang saja. Ketika kami berdua menafikan pola dan perbandingan, batasan biasa tak lagi bermakna. Terlalu dekat menjadi relatif dan ketika semua tanda merujuk pada satu arah, aku rasa hanya hati yang bisa menjawab.

Sakit Gigi

Maaf tidak ada kata-kata puitis untuk yang satu ini, sakit gigi. Titik.

Cinta

Kau tak pernah tahu bagaimana, tapi saat itu terjadi ... kau tahu bahwa itulah yang kau cari. Kau tak perlu basa basi karena pengertian mengalahkan kata, pun ketika itu dirangkai dengan menggunakan hati sang pujangga. Kau tahu karena kau tahu dan bukan karena seribu satu orang menyuruhmu untuk tahu.

Kau lihat, aku menggumam ... bahagia karena melihatmu bahagia

Bahagia

".. tapi apakah kamu bahagia?"

Pertanyaan itu menggantung tanpa pernah mendapatkan jawaban. Aku tahu ia tak pernah membiarkan orang mendefinisikan dirinya. Tapi melihat bagaimana semuanya berjalan tidak terkendali mungkin akan membuat semuanya berbeda.

Rana

Ia melihat pantulan dirinya di cermin ... di sekitar matanya ia melihat lingkaran hitam. Sebentar lagi juga hilang pikirnya. Setelah tugas membuat maket selesai ia yakin bisa tidur sepuasnya. Namun ia tidak yakin semuanya akan kembali membaik. Setelah ia menyerahkan maketnya kepada koordinator studio, ia masih merasa belum tenang.

Ia harus lupa ... Ia tak boleh membiarkan wajahnya mengkhianatinya ... Wajah berhentilah tersenyum ...

Kembali ke Indonesia

Kalau sudah lulus mau kemana? Itulah pertanyaan yang kerap aku dapat dan selalu aku menjawab tidak tahu. Aku ingin menjadi bagian dari perubahan dan meski ada banyak cara untuk melakukannya dari jauh, aku tetap merasa perubahan akan menjadi nyata jika aku melakukannya dari dalam. Tapi kadang ada juga pertanyaan menggelitik untuk mendalami dunia akademik. Beberapa kolega yang aku temui bilang aku akan dengan mudah mendapatkan posisi post-doc. Kemungkinan itu juga masih belum aku tutup meski sekali masuk kedalamnya, aku tidak yakin lagi apakah aku mau kembali.