Posts

Showing posts from March, 2012

Kangen

Menghitung waktu kembali seperti membiarkan bayang-bayang itu masuk. Membuka ruang bagi wajah yang dalam beberapa bulan terakhir hanya menghiasi pikiran entah dalam lapisan yang kesekian. Rasa itu terasa menyesakan. Dekat namun tak mungkin untuk dijangkau. Ada ribuan kilometer yang membentang tanpa tahu harus bersikap bagaimana.
Kadang aku jenuh dengan ketiadaan kepastian. Mengambang dari satu titik menuju titik lainnya tanpa tahu kemana ini semua akan bermuara. Keadaan yang tak pernah lepas dari kangen karena geografis masih menjadi penghalang.

Tenggat

Ada banyak tenggat dan yang kuingat malah hari pertama aku bertemu denganmu. Saat itu kau tampak tak bisa diganggu. Sedikit sapa di awal, kemudian larut di balik layar. Namun setelah kau selesai, wajahmu berubah seratus delapan puluh derajat. Kau menjadi ramah. Aku kerap takjub dengan kemampuanmu mengubah serius menjadi santai. Sama seperti aku terpana melihat betapa kau memperhitungkan segala hal. Mulai dari membuat biodata hingga anggapan orang tentangmu. Kau suka memperhatikan hal-hal kecil hingga hanya dengan memperhatikan ekspesiku di depan layar, kau tahu aku sedang menonton The Colbert Report.

Tawa

Entah kenapa aku tergoda memasukan namamu ke dalam mesin pencari itu. Hanya ada bayangan samar tentang nama belakangmu yang hingga kini masih sulit kulafalkan dengan benar. Tapi baru berapa huruf aku ketikan, aku sudah bisa menemukan namamu. Begitu melihat wajahmu, aku tahu aku telah melakukan kesalahan. Alih-alih membuyarkan kenangan yang mungkin salah, raut itu kian menguatkan ingatan tentang bagaimana kau tertawa. Gayamu ketika mendengar musik dari jendela kita atau ketika kau memergogiku sedang meniupkan gelembung sabun di ruangan ...

Kenangan

Sudah kian jarang kenangan akan dirimu melintas. Namun tetap saja ada hal-hal yang terlalu lekat dengan dirimu seperti saat aku mau membuat presentasi dan kau dengan bangga menunjukan bahwa warna teknologi yang buatku terlalu membosankan bisa diganti. Saat itu kau langsung datang menghampiri mejaku tanpa perlu kupinta ... Atau ketika siang ini aku kepanasan, aku teringat kenangan kita mengomel bersama dan memutuskan sore itu kita tidak akan bekerja.
Mungkin aku harus mencoba untuk membenci sepakbola kembali karena itu hanya akan menguatkan ingatanku padamu, permainan di tingkat nasional, kisah penjual sepatu bola langgananmu, diet ala olahragawan maupun tata cara latihan yang baik. Seribu satu hal yang mulanya tak pernah kupedulikan.
Dan dengan segala kenangan ini, entah kenapa surat elektronikmu tadi menjadi nomor satu di kotak inbox-ku. Salah setting yang terasa mengejek ...