Posts

Showing posts from 2012

Jika

Jika ada satu keping hilang akankah aku berada di titik ini?
Kadang aku membandingkan, apa yang aku lakukan di malam libur Apakah aku berkawan manusia atau larut dalam mesin
Mungkin hasilnya sama Berkawan imaji
Bahkan obrolan warung kopi pun berulang Jam demi jam di pinggir jalan atau hingga larut malam dengan ilalang

Kamisama

"let me seal the contract again.. this time from my heart.."

*speechless*

Ritual

Menjelang pergantian tahun dan yang aku lakukan adalah melakukan kebiasaan beberapa tahun silam. Membaca manga, menonton anime, dan jatuh cinta pada tokoh-tokoh yang acap berteriak "ganbatte", "baka", "watashi", "kawaiii". Mungkin manusia memang pecinta ritual. Jejak dicipta untuk kembali dan sekaligus menuju. Proses menjadi seperti becermin pada lalu yang retak. Dan ketika aku mencoba untuk menata kembali pilihan-pilihan yang telah aku lalui, rasanya semua seperti perulangan. Kedekatan-kedekatan yang menjadi ritual dan ketika ia berganti rupa, seperti ada lubang yang menganga.

Tiga hari sudah dan sepuluh hari lagi menjelang ....

Api

... hangus

Supernova

... dan kelahiran bintang baru

Kafka .. kafka ...

Melampaui aneh hingga tak tahu lagi harus berpikir apa
Tak pernah percaya pola hingga janggal tak lagi bermakna Mungkin aku masuk dalam dunia kafka Dimana semua peluang mungkin menjadi nyata dan entah kenapa semua terasa biasa

Asing

Setengah jam di acara Indonesia yang terasa berjam-jam karena bosan dan 6 jam bersama rekan kantor yang terasa hanya sekejap. Rupanya akrab tak dibentuk oleh darah ataupun akar, melainkan karena biasa. Kami bisa berbincang tentang teori hingga larut malam, kadang dalam ruang, kadang hanya di ruang lapang, meski mungkin itu satu-satunya yang sama diantara kita. Dan kalau aku bisa menghabiskan seperempat hari hanya dengan satu kesamaan, bagaimana jika kami berbagi lebih banyak hal yang sama? Tapi tentu saja, ruang bukan sesuatu yang bisa dibentang dengan logika matematika.

Kemala

Ia tak tahu sejak kapan situasinya menjadi sedemikian rumit. Mulanya ia merasa bahagia karena ia bisa menjadi biasa setelah sekian bulan merasa berada ditempat yang salah. Jika orang mengenalnya sebagai orang yang ceria, sudah beberapa bulan ini ia memilih mode diam. Namun kebersamaannya bersama Andre membuatnya kembali nyaman. Andre tak pernah bertanya macam-macam, ia hanya selalu ada di kala Kemala sedang gundah. Dan kalau Kemala kadang suka jengah dengan tatapan tak percaya, ia selalu yakin kalau Andre akan selalu ada dibelakangnya. Jadi meski ia tahu Andre tak mungkin dimiliki, ia tak bisa mengenyahkan perasaan yang perlahan tumbuh di hatinya.
Ia tahu ada bagian dari dirinya yang retak ... dan meski ia selalu merasa ada bagian yang tidak mungkin utuh kembali, ia merasa jauh lebih utuh semenjak kehadiran Andre.

Delusional

Mulai delusional. Membayangkan yang tak mungkin tercapai meski entah kenapa rasa itu membuat nyaman. Bahkan hanya dengan ketemu dan bertukar sapa, ada perasaan hangat yang menyelinap tanpa bisa aku cegah. Mungkin ini tanda terlalu banyak baca. Aku jadi membayangkan yang tidak-tidak. Ah ... tapi dengan kehidupan sosial yang hanya terbatas di hari libur, mau tak mau orang-orang di tenpat kerja menjadi seperti kerabat. Kau mulai tahu keseharian mereka karena irisan kehidupanmu meningkat tajam. Kau menjadi dekat karena ruang yang dilipat.

Tanpa kau sadar, kau telah terperangkap dalam ritual ...

Hidup

Cocok. Itu deskripsi yang acap aku dapat ketika bertemu dengan orang baru dimana kami bisa berbincang dengan akrab dengan cepat. Seketika aku tahu bahwa kami bisa berteman. Ketika aku telaah lebih jauh, tampaknya aku memang memerlukan kualitas itu. Sebagai peneliti sosial, aku harus mampu membuat orang yang kuajak bicara nyaman dan mau tak mau, aku terbiasa membaca wajah. Aku suka dengan manusia dan itu yang membuat persinggungan awalku dengan dunia jurnalis bermula sebagai penulis profil. Kini aku menulis segala sesuatu. Membaca tak lagi terbatas pada manusia, tapi juga pada alam dan benda material. Aku menjadi sesuatu yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya dan kadang aku tidak tahu apakah eksistensiku terbentuk karena ritual atau karena aku menginginkan segala sesuatu terjadi.

Mungkin kita memang makhluk pencipta ritual. Kita menciptakan rutinitas untuk bergerak ... untuk merasa hidup, meskipun hidup adalah salah satu bentuk ritual itu sendiri.

Cemas

Kadang umur atau posisi tak ada sangkut pautnya. Ketika kau mulai peduli, kau juga harus bersiap-siap untuk cemas. Bukan karena dia tidak peduli juga padamu, tapi ketika dia sakit atau menghadapi masalah, ada bagian dari dirimu yang turut merasa nyeri. Kau tahu bahwa dia sudah dewasa dan lebih dari cukup untuk menjaga dirinya sendiri, tapi mengetahui bahwa segala sesuatu bisa menjadi sangat rumit, membuatmu tak bisa berhenti merasa cemas.

Great Expectation!

Entah kenapa ketika itu berkaitan dengan sesuatu yang baru orang berharap terlampau banyak. Aku benci dengan harapan-harapan itu. Kenapa hidup tak berjalan dengan biasa saja. Tanpa segala ekspektasi yang berlebihan. Ini sama sekali bukan masalah aku mampu atau tidak, aku percaya kalau mau aku bisa. As simple as that. Tapi ketika orang mulai membicarakan segala hal baik tentangku, aku merasa jengah. Aku merasa berada dalam akuarium dan kadang itu membuatku sesak.

Swiss ...

Image

Rubah

Salah satu bagian yang paling aku suka dari kisah Little Prince adalah sang rubah
Sebelum sang rubah yakin akan sang pangeran, ia minta dijinakkan
Dan entah kenapa aku merasa tengah menjinakkan diri sendiri
Mencoba memahami apa yang aku inginkan sebelum minta dipahami
Tapi setelah mencoba memahami semua yang pernah terjadi,
tampaknya penjinakkan bukan titik melainkan sebuah garis,
ia adalah proses untuk menjadi dan menerima.

Berlin ... Berlin

Image

Bunga

Image

Casual

Yesterday is history, tomorrow is a mystery and today's a gift, that is why it's called the present Saat lampau aku suka dia. Dan memang semesta menempatkan aku dan dia dalam sebuah ruang yang sama. Kami berbagi cerita dan kebersamaan kadang menghadirkan sesuatu yang tidak biasa. Ketika kami berpisah, cerita itu berakhir begitu saja. Ruang berdua itu tak lagi ada, pun rasa yang aku miliki tentang dia.

Ketika kemarin hidup kami beririsan kembali setelah satu tahun tak bersua, rasanya bentang satu tahun itu tak pernah ada. Dia masih hangat seperti yang selalu aku ingat. Kami berbagi sapa dengan rangkulan ringan karena itu cara kami berpisah setahun silam dan entah kenapa kami nyaman.

Dan tiba-tiba aku teringat kata-kata bahwa perempuan dan laki-laki tidak bisa berteman ...

Episode Merah Jambu

... yang bertahan kurang dari satu minggu
Selain akademik tampaknya tidak ada lagi yang menarik
Jadi tampaknya aku menemukan titik
Akhir dari segala kegilaan yang kini terasa konyol
meski hidup kini menjadi hidup lagi ...

Journey

Image

Putih

ternyata aku tak bisa dengan hitam sesak dengan kelam pun jika warna itu perantara yang mungkin memang tak boleh ada

Hitam & Teh

memulai lembaran baru dengan hitam ...  dan ingat itu warna yang selalu kau pakai mulai kembali minum teh ...  karena kau pernah membuatkannya untukku

Jejak

Setelah lama tak meninggalkan jejak di halaman maya ini, aku mulai menulis kembali. Mungkin aku harus cemas, karena biasanya kata berjalan seiring dengan rasa, dan untuk yang satu ini, aku tidak mau itu terjadi. Aku merindukan rasa itu tapi tidak dengan cara ini. Mungkin aku harus berhenti membekukan waktu lewat guratan kalau itu hanya membuatnya semakin dalam dan pasti. Aku harus berhenti, tapi entah kenapa aku mulai menantikan irisan-irisan yang mungkin terjadi.

Damn!

Tentang Dia

Entah kenapa aku tak tahu apa yang kurasa tentang dia. Aku senang ketika dia tanpa alasan duduk di ruangan dan berbagi udara yang sama. Bingung ketika dia mengucapkan terlalu banyak kata maaf karena mengambil waktuku, seakan kebersamaan bisa diciptakan oleh satu orang saja. Ketika kami berdua menafikan pola dan perbandingan, batasan biasa tak lagi bermakna. Terlalu dekat menjadi relatif dan ketika semua tanda merujuk pada satu arah, aku rasa hanya hati yang bisa menjawab.

Sakit Gigi

Maaf tidak ada kata-kata puitis untuk yang satu ini, sakit gigi. Titik.

Cinta

Kau tak pernah tahu bagaimana, tapi saat itu terjadi ... kau tahu bahwa itulah yang kau cari. Kau tak perlu basa basi karena pengertian mengalahkan kata, pun ketika itu dirangkai dengan menggunakan hati sang pujangga. Kau tahu karena kau tahu dan bukan karena seribu satu orang menyuruhmu untuk tahu.

Kau lihat, aku menggumam ... bahagia karena melihatmu bahagia

Bahagia

".. tapi apakah kamu bahagia?"

Pertanyaan itu menggantung tanpa pernah mendapatkan jawaban. Aku tahu ia tak pernah membiarkan orang mendefinisikan dirinya. Tapi melihat bagaimana semuanya berjalan tidak terkendali mungkin akan membuat semuanya berbeda.

Rana

Ia melihat pantulan dirinya di cermin ... di sekitar matanya ia melihat lingkaran hitam. Sebentar lagi juga hilang pikirnya. Setelah tugas membuat maket selesai ia yakin bisa tidur sepuasnya. Namun ia tidak yakin semuanya akan kembali membaik. Setelah ia menyerahkan maketnya kepada koordinator studio, ia masih merasa belum tenang.

Ia harus lupa ... Ia tak boleh membiarkan wajahnya mengkhianatinya ... Wajah berhentilah tersenyum ...

Kembali ke Indonesia

Kalau sudah lulus mau kemana? Itulah pertanyaan yang kerap aku dapat dan selalu aku menjawab tidak tahu. Aku ingin menjadi bagian dari perubahan dan meski ada banyak cara untuk melakukannya dari jauh, aku tetap merasa perubahan akan menjadi nyata jika aku melakukannya dari dalam. Tapi kadang ada juga pertanyaan menggelitik untuk mendalami dunia akademik. Beberapa kolega yang aku temui bilang aku akan dengan mudah mendapatkan posisi post-doc. Kemungkinan itu juga masih belum aku tutup meski sekali masuk kedalamnya, aku tidak yakin lagi apakah aku mau kembali.

Rana

Entah mengapa terasa ada yang salah. Pekerjaannya berjalan sempurna, karirnye terus menanjak, namun semua itu tak mampu mengusir rasa gundah yang ada di benaknya. Ia merasa seperti ada orang lain yang menjajah tubuhnya. Hidup dalam auto-pilot mode ...

Salah

Entah kenapa aku kehilangan kata ... Lidahku kelu, otakku beku

Akhir

Di saat aku mau lupa, kenapa kau malah menyapa?

Kangen

Menghitung waktu kembali seperti membiarkan bayang-bayang itu masuk. Membuka ruang bagi wajah yang dalam beberapa bulan terakhir hanya menghiasi pikiran entah dalam lapisan yang kesekian. Rasa itu terasa menyesakan. Dekat namun tak mungkin untuk dijangkau. Ada ribuan kilometer yang membentang tanpa tahu harus bersikap bagaimana.
Kadang aku jenuh dengan ketiadaan kepastian. Mengambang dari satu titik menuju titik lainnya tanpa tahu kemana ini semua akan bermuara. Keadaan yang tak pernah lepas dari kangen karena geografis masih menjadi penghalang.

Tenggat

Ada banyak tenggat dan yang kuingat malah hari pertama aku bertemu denganmu. Saat itu kau tampak tak bisa diganggu. Sedikit sapa di awal, kemudian larut di balik layar. Namun setelah kau selesai, wajahmu berubah seratus delapan puluh derajat. Kau menjadi ramah. Aku kerap takjub dengan kemampuanmu mengubah serius menjadi santai. Sama seperti aku terpana melihat betapa kau memperhitungkan segala hal. Mulai dari membuat biodata hingga anggapan orang tentangmu. Kau suka memperhatikan hal-hal kecil hingga hanya dengan memperhatikan ekspesiku di depan layar, kau tahu aku sedang menonton The Colbert Report.

Tawa

Entah kenapa aku tergoda memasukan namamu ke dalam mesin pencari itu. Hanya ada bayangan samar tentang nama belakangmu yang hingga kini masih sulit kulafalkan dengan benar. Tapi baru berapa huruf aku ketikan, aku sudah bisa menemukan namamu. Begitu melihat wajahmu, aku tahu aku telah melakukan kesalahan. Alih-alih membuyarkan kenangan yang mungkin salah, raut itu kian menguatkan ingatan tentang bagaimana kau tertawa. Gayamu ketika mendengar musik dari jendela kita atau ketika kau memergogiku sedang meniupkan gelembung sabun di ruangan ...

Kenangan

Sudah kian jarang kenangan akan dirimu melintas. Namun tetap saja ada hal-hal yang terlalu lekat dengan dirimu seperti saat aku mau membuat presentasi dan kau dengan bangga menunjukan bahwa warna teknologi yang buatku terlalu membosankan bisa diganti. Saat itu kau langsung datang menghampiri mejaku tanpa perlu kupinta ... Atau ketika siang ini aku kepanasan, aku teringat kenangan kita mengomel bersama dan memutuskan sore itu kita tidak akan bekerja.
Mungkin aku harus mencoba untuk membenci sepakbola kembali karena itu hanya akan menguatkan ingatanku padamu, permainan di tingkat nasional, kisah penjual sepatu bola langgananmu, diet ala olahragawan maupun tata cara latihan yang baik. Seribu satu hal yang mulanya tak pernah kupedulikan.
Dan dengan segala kenangan ini, entah kenapa surat elektronikmu tadi menjadi nomor satu di kotak inbox-ku. Salah setting yang terasa mengejek ...

Tentang Dia

Terlalu gila kalau bilang aku jatuh cinta. Aku menyukainya. Sama seperti aku suka es krim. Jadi kalau sekarang aku kangen dengan kehadirannya, itu sama seperti ketika Sabtu lalu aku ingin makan es. Seharusnya bisa sesederhana itu ... tapi ketika aku menonton film Morning Glory dan melihat adegan dimana pemeran utamanya mencari tokoh pria dan mengatakan, "Ketika aku mendapat kabar bahagia ini, kamulah orang pertama yang ingin aku kasih tahu ..." aku jadi teringat ketika dia datang ke ruang kantorku dan membagi kabar bahagia yang dia miliki. Dan kenangan itu merembet ke kisah ketika dia kembali ke kantor pada saat aku sedang main gelembung sabun. Atau ketika aku sedang nonton dari balik layar dan dia bisa menebak apa yang aku lakukan.
Tak ada yang istimewa dari kebersamaan kami selain aku terbiasa dengan kehadiran dan cerita-ceritanya yang merentang dari mulai dia bangun hingga hendak menutup mata. Keberadaannya terasa tepat ...

Andre

Hari ini ia pergi ke bar. Ia pernah bilang pada Kemala kalau ia hanya minum ketika ada teman yang mengajaknya. Namun kali ini ia ingin tidak sadar. Ia benci kesadaran kalau itu hanya membuatnya merasa ada sebuah lubang yang menganga lebar.

Kemala

Kalau ada yang membuat kondisi hatinya kian tak menentu itu adalah sakit. Sudah dua hari ini Kemala tak berangkat ke kantor karena flu parah yang menyergap badannya. Pada hari ketiga, ia memutuskan untuk berjalan, mencari perubahan suasana. Pergi ke restoran yang menawarkan suasana menyenangkan, memesan makanan enak tanpa terlalu peduli berapa yang harus ia keluarkan. Ia hanya ingin bersenang-senang. Namun saat makanan hangat itu masuk ke mulutnya, yang ia ingat hanyalah bayangan ketika mereka bersama. Dulu ia tak pernah peduli dimana telepon genggamnya berada. Ia berbicara saat makan siang, bukannya membaca layar ataupun mengetikan kata-kata tak berguna. Ia menyukai cara Andre menceritakan detil-detil kehidupannya, tanpa peduli hal itu akan membawanya kemana. Mungkin itu pula yang menyebabkan ia tak pernah menyukai orang gombal. Ia tak pernah mengerti apa makna dari kata manis yang diucapkan secara tiba-tiba. Ia lebih suka gaya Andre yang memuji masakannya atau menungguinya makan dib…

Andre

Apakah agama seperti cinta? Ia tahu apa yang dirasakannya tak masuk akal, namun dengan logika yang dimilikinya, ia tak juga mampu menghapus bayang Kemala. Apakah ini yang menyebabkan Kemala melakukan ritual lima kali sehari yang tak dimengertinya? Awalnya Andre mengira agama menyebabkan seseorang menjadi fanatik dan berpikiran sempit, namun perkenalannya dengan Kemala menghapus semua dugaan itu. Kemala adalah salah satu orang paling stabil yang pernah dikenalnya. Kalau dulu ia menganggap alkohol sebagai salah satu cara mencapai keseimbangan, kini ia tak yakin lagi. Ia menyukai bagaimana zat itu menurunkan tingkat kewaspadaannya. Membuatnya lebih santai, meski ia menolak menghilangkan seluruh kesadarannya. Ia senantiasa bangga dengan kontrol yang ia miliki. Senin hingga Jum'at untuk kegiatan produktif dan Sabtu-Minggu untuk menjadi konsumtif, bangun siang, mencari tempat makan enak, bercengkrama dengan Kemala, atau menonton pertandingan sepakbola.
Ia kehilangan keseimbangan dan mun…

Kemala

Malam itu ia makan pasta. Mudah, singkat, dan cepat. Hanya itu yang ia butuhkan untuk mengusir bayangan kursi kosong di hadapannya. Tak ada canda tawa maupun botol anggur putih yang sering ia beli tanpa pernah ia tahu rasanya. Sering ia tak bisa membedakan gelasnya dengan Andre. Dari jauh keduanya memantulkan warna yang sama, emas bening. Anggur putih dan jus apel. Seperti kedua dunia mereka yang berbeda namun dipertemukan dalam ruang-ruang yang sama. Perbedaan itu terasa mengejeknya. Andre tak pernah kehilangan kesadarannya. Ia tak suka alkohol kuat seperti tecquilla misalnya, namun tetap saja menembus batas itu terasa salah. Perasaan yang terasa kian melemah.
Sudahkah ia menyerah pada bisikan-bisikan yang dulunya ia anggap iblis itu?

Andre

Setelah beberapa malam makan dengan pasta. Malam ini ia memutuskan untuk makan nasi. Biasanya ia tak suka membiarkan kesibukan memasak memenuhi harinya, namun setelah makan malam sendiri terasa demikian hampa, ia berharap kenangan mampu menambah sedikit rasa. Melewati kerumitan mengiris dan mengaduk demi mendapatkan ritme yang dulu diisinya bersama. Kalau dulu roti dan sup panas sudah cukup membuat harinya berwarna, kini ia membutuhkan kerumitan untuk membuatnya puas.
Ia mencoba memikirkan makanan yang enak. Namun memvisualisasikan dirinya makan sendiri hanya membuat kursi kosong di hadapannya kian terlihat jelas.

Kemala

Ia memikirkan sebait kemungkinan itu. Kebersamaan tanpa nama. Tak perlu ada ikatan, hanya keberadaan satu sama lain. Dipertemukan ruang dan waktu. Mereka tak perlu terperangkap dengan nama-nama yang ada dalam drama, ia hanya perlu dia. Bukankah itu yang membuat ia bahagia? Ia tahu apa yang ia lakukan mungkin tidak benar. Tapi mereka bisa tetap menjaga hal itu bukan? Menjalankan semua yang mereka yakini tanpa mengorbankan kebersamaan mereka.

Andre

Jika semua tatanan tak setuju,kita bersama saja Kau dan aku Tanpa nama

Kemala

Never mind, I'll find someone like you
I wish nothing but the best for you too
Don't forget me, I begged
I remember you said,
"Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead"

You'd know how the time flies
Only yesterday was the time of our lives
We were born and raised
In a summer haze
Bound by the surprise of our glory days

Ia benci lagu itu. Benci akan kebenarannya hingga ia merasa sah saja untuk meneteskan air mata. Benarkah cinta tentang substitusi, menggantikan satu sosok dengan yang lainnya, hanya atas nama status semata? Ia masih teringat perbincangan mereka di meja makan tentang kalori dan energi. Andre suka mencari tahu, dan Kemala sangat suka menjadikan kebiasannya itu sebagai bahan candaan. Ia suka melihat wajah cemberut Andre yang kemudian akan disudahi dengan gelak tawa. Sekarang detil-detil itu menghantuinya kemanapun ia melangkah. Kian banyak yang Andre katakan, kian sempit gerak langkahnya. Tayangan sepak bola mengingatkan dirinya tentang cerita …