Wednesday, November 30, 2011

Andre

Haruskah dunia hanya tentang mereka berdua? Ia mencoba mengalihkan pikirannya dengan membuat daftar tentang apa yang telah dilakukannya satu hari ini. Pergi ke Albert Heijn, teringat dengan makanan kesukaan Kemala, melanjutkan perjalanan ke kantor, teringat bagaimana kadang ada bunga di resepsionis, dan lagi-lagi Kemala. Menyelesaikan satu maket yang sudah ditundanya sejak sebulan silam, makan siang, lagi-lagi teringat Kemala. Ternyata usaha mekanistik yang ia lakukan malah membuatnya kian teringat. Mungkin ia harus menerima proyek lebih banyak. Membiarkan otak kirinya mengambil alih tubuh dan juga jiwanya ...

Thursday, November 24, 2011

Kemala

Mungkin di kehidupan yang lain mereka ditakdirkan bersama. Perasaan mereka nyata, namun dunia menolak mereka bersama. Ia masih merasakan sesuatu yang menggelitik hanya dengan membaca kata-kata dari Andre. Mungkinkah ia bisa lupa? Bisakah ia berhenti membandingkan semua sosok yang mendekatinya dengan Andre? Dengan bagaimana ia tertawa, melakukan hal-hal kecil tanpa diminta?

Dunia sedang tak berpihak padanya ...

Saturday, November 12, 2011

Andre

Setelah tiga tahun tak mendengar kabar, Kemala mendapatkan apa yang ingin ia dengar. Namun ia tak lagi yakin dengan perasaannya. Jika dulu ia menantikan kepastian itu, kini kata itu seolah kehilangan pesonanya. Surat itu masih membuat detak jatuknya berdegup lebih kencang. Ia masih peduli, kalau kau ingin tahu. Tapi dampaknya tak menggebu-gebu lagi seperti dulu. Apakah ini cinta? Apakah dulu ia bisa dinamakan jatuh cinta?

Dear Kemala,
Maafkan aku karena tak menjumpaimu di taman setahun yang lalu. Aku berdiri di sana dengan segala kekuatan untuk tak melangkah mendekatimu. Aku mencoba menjadi ksatria dengan mencoba percaya bahwa mencintai berarti melepaskan kau pergi. Tapi nyatanya aku tak lebih dari seorang pengecut karena tak berani menghadapi perasaanku sendiri. Aku melihatmu menunggu. Mengamati wajahmu yang menyiratkan sejuta rasa antara harapan, cemas, dan kemudian pasrah. Kau pantas marah padaku dan saat kau memperoleh surat ini, mungkin kau sudah melanjutkan hidupmu. Aku berharap kau bahagia, tapi dengan segala keegoisanku, aku berharap kita dapat kembali bersama.

Setahun ini berjalan begitu pelan. Aku mencoba melakukan segala agar bayangan dirimu enyah dari kepala. Namun sedalam aku mencoba, sejauh itu pulalah dirimu kian merasuk ke seluruh tubuhku. Seperti kau lihat, aku tak pandai berkata-kata. Bahkan otak kiriku yang dulu senantiasa bisa kuandalkan kini mendadak menjadi tumpul. Kalau dulu aku bisa menyusun langkah-langkah, kini jalan itu tak lagi berarti.

Aku tahu untuk membebaskan diriku, aku harus melupakanmu. Tapi hingga detik aku mengetikan kata-kata ini untukmu, aku tidak mampu.

Katakanlah apa yang ada di pikiranmu dan aku akan mengikutinya. Kalau kau menginginkanku enyah, aku takkan lagi menyapamu. Kalau kau ingin aku terbang untuk menjumpaimu, aku akan melakukannya. Aku hanya memohon kerelaanmu untuk membalas kata-kata ini.

Yours,
Andre

De-taming

"... What does that mean-- 'tame'?" asked the Little Prince. "It is an act too often neglected," said the fox. ...