Posts

Showing posts from September, 2011

Arya

Dear Kemala,Aku tidak menyangka akan mendapatkan kata-kata itu darimu. Perasaanku bercabang ketika mendengar kedua kata itu disebutkan dengan begitu gamblang, meski akulah yang pertama membuat cinta menjadi seperti permata tiruan, indah namun tak bermakna. Saat itu yang terlintas dalam kepalaku hanyalah pembebasan untuk mengekspresikan rasa yang ada di dalam hatiku. Aku rindu untuk mencinta, dan pada perasaan itulah aku tunduk ketika menuliskan surat untukmu. Mendapatkan kata-kata serupa darimu membuatku sadar bahwa kata cinta itu seperti belenggu, ia menciptakan ikatan tanpa pernah tahu apa yang terikat dan bagaimana ikatan itu tercipta. Ia mulai menciptakan denyut kehidupan sendiri yang bahkan aku tak tahu bagaimana untuk larut kedalamnya.
Kemala, aku hanya tahu kau sebatas ide tapi kau sudah mulai menghirup segala imajiku. Aku tak tahu apakah aku sanggup bertahan dalam tarian penuh ketidakpastian ini. Kau mampu merenggut semua jiwaku hanya dengan ketidaktahuanku akan dirimu. Kau wuj…

Kemala

Belum ada balasan ... dan ia merasa sedikit kecewa. Ketika ia benar-benar merasa siap dengan segala konsekuensi dari jawaban yang ia berikan, ia malah tak mendapatkan apapun. Tidak balasan, pun jawaban tentang bagaimana membuat semuanya mungkin. Dan hal terparah dari semuanya, ia tak mengerti bagaimana orang yang hanya ia ketahui lewat bit-bit maya mampu membuatnya kecewa. Sebuah nama yang bisa menjungkirbalikan seluruh semesta hidupnya. Tampaknya ada yang benar-benar salah dalam hidupnya ...

Arya

Kalau sebelumnya ia bisa tertawa karena membaca dua kata, kini ia hanya bisa diam termenung membaca kata-kata balasan di layar monitornya. Segala argumen runtuh, logika tiada, ia bahkan tidak yakin apakah ia masih memahami bahasa Indonesia dengan baik. Aku mencintaimu titik. Ia pernah tidak tidur tiga malam karena tidak mampu memahami suatu persamaan matematika, namun pada saat itu setidaknya ia tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tahu bagaimana mendapat rujukan yang akan membuatnya lebih dekat pada jawaban. Kini ia sama sekali tak memiliki pegangan.
Ia mencoba menggunakan otak kirinya. Mencari sebait pijakan bagi balasan yang diterimanya dan tetap tak yakin atas kesimpulan yang ia perolehnya. Andaikan ia seorang pujangga, mungkin ada dua narasi yang akan tercipta. Bahwa ini semua hanya sebuah permainan yang menghadirkan ia sebagai salah satu tokohnya dan tiap saat ada kemungkinan ia akan melihat kamera. Narasi lainnya adalah Kemala percaya pada penilaian lewat sebait informasi. Tentan…

Kemala

Apakah dengan kopi darat ia akan kembali mengulangi episode yang kini telah ia akhiri? Bukankah lalu telah mengajarkannya untuk tidak mudah merasa nyaman dengan kehadiran seseorang. Lalu jika kopi darat bersambung dengan seribu satu darat lainnya, akankah ia pada akhirnya berlabuh? Apakah ia sebaiknya membuat pernyataan demi pernyataan itu sendiri dan bukan orang dibaliknya? Jika ia mendapat pesan tersebut sebelum episodenya dengan Andre, ia akan dengan mudah mengiyakan permintaan itu. Surat maupun kopi darat hanya merupakan langkah untuk berpindah dari satu labirin ke labirin lainnya. Untuk tahu lebih dalam, untuk merasa menjadi bagian dari sesuatu, tanpa benar-benar kehilangan dirinya sendiri. Tapi ia telah berubah, ia lelah.
Jadi apa yang harus ia ketikan dalam surat balasan, bahwa mereka tak sebaiknya bertemu kalau tidak serius atau sebaiknya ia menghentikan semuanya bahkan sebelum dimulai. Alih-alih mengikuti segala pertimbangan yang menggelayuti otak kirinya, ia mengetikan dua k…

Arya

Episode sebelumnya: surat untuk Kemala

Kau gila


-K


Ia tertawa membaca dua kata balasan dari Kemala. Setidaknya harapan itu masih ada, Kemala tidak menolak gagasan bahwa ia mencintai ilusi tentang dirinya. Dan memang tidak ada kata lain yang lebih tepat dibandingkan gila. Ia hanya tak menyangka seseorang akan mengutarakannya dengan sedemikian gamblang. Jika ia ingin bermain, ia akan mencari segala informasi yang bisa ia peroleh tentang Kemala. Hal-hal apa yang disukainya, kata-kata apa yang akan membuat Kemala tertarik, ia akan menyajikan itu semua untuk memenangkan simpatinya. Tapi sungguh, ia lelah. Arya hanya ingin menjadi dirinya sendiri, tanpa harus takut kehilangan apapun. Bukankah ia setuju untuk menjalankan usul gila ini karena dia ingin merdeka dari segala penilaian?

Ia mengetikan balasan untuk surat itu dalam alamat surat elektronik yang ia buat khusus untuk proyek ini:
Kopi darat?


-A

Kemala

Episode sebelumnya: surat di tangan ...
Dear Kemala, Seorang teman mengajukan sebuah usul gila kepadaku sepekan silam. Ketika pertama kali mendengarnya aku tidak tahu harus berkata apa. Untuk pertama kali dalam hidupku aku tak bisa memberikan sanggahan. Menurut teori peluang, aku tidak akan kehilangan apapun karena bagaimana mungkin aku akan kehilangan sesuatu yang belum aku miliki. Namun di sisi lain, usul ini juga menawarkan sebuah ilusi. Kau adalah ilusi atas semua permasalahanku. Aku tidak tahu apakah aku akan hancur jika ternyata ilusi ini tidak berjalan dengan baik. Kadang aku senang membiarkan sesuatu yang tidak tampak tetap pada tempatnya agar aku masih bisa berharap. Aku membutuhkan ketidakpastian agar aku bisa membuat pilihan, agar aku bisa melepaskan diri jika ada sesuatu yang salah. Dengan surat ini, ilusi itu akan berubah menjadi realita.
Kau pernah mendengar cerita tentang kotak Pandora? Ketika Pandora tak bisa menahan rasa ingin tahunya, ia membuka kotak larangan yang men…

Arya

Episode sebelumnya: ia mengirimkan surat perkenalan untuk perempuan yang hanya pernah ia dengar namanya, Kemala.
Mungkinkah ini akan menjadi pelabuhan terakhirnya? Arya tahu bahwa satu-satunya alasan ia berpindah hati adalah karena ia tidak siap dengan tanggungjawab. Tiap kali ada orang yang menanyakan kapan ia akan melangkah ke jenjang berikutnya, tiap kali pula ia memutuskan untuk menghentikan apa yang sudah ada. Apakah ia merasa sedih? Jawabannya adalah ya. Ia tidak pernah siap untuk kehilangan, namun ia juga tidak siap dengan ikatan. Namun kehilangan seseorang yang sangat dekat dengannya dua tahun silam membuat Arya memikirkan kembali semua prioritas hidupnya. Satu hal yang ia sadari, ia tak mau lagi kehilangan meski ia sendiri yang kerap melakukannya.
Dan kini ia dihadapkan dengan salah satu usul gila: mengirimkan sebuah surat cinta kepada seorang yang tidak dikenalnya. Peluang diterima: lima puluh-lima puluh. Peluang bahagia: lima puluh-lima puluh. Ia hanya berharap kedua peluang …