Wednesday, December 19, 2007

Senja (2)

“Kenapa kau masih membelanya?”
“Karena aku tak punya alasan untuk melakukan sebaliknya.”
“Meski apa yang diperbuatnya salah?”
”Salahkah ia ketika hendak mengejar legenda pribadinya?”
”Tapi hal itu merugikan ...”
”Benarkah, bukan karena hatimu yang kecewa?”
”...”
”Kecewa tak mengenal logika, sama halnya seperti cinta. Imaji yang kau bangun atas dirinya, pada akhirnya hanya akan berbalik padamu.”
”Artinya kau tak punya harapan padanya? Itu bahkan lebih parah daripada kecewa.”
”Entahlah, aku hanya merasa ketika seseorang melakukan sesuatu yang merupakan hasrat dirinya, maka ia akan menemukan kesejatiannya.”
”Karena itu kau masih sebal dengan apa yang kau kerjakan?”
”Salah satunya. Aku memang bisa mencari dimensi-dimensi yang menjadi inginku, tapi hasratku tak disana. Setumpukan data, analisa atau apalah, tapi tetap saja semuanya berasal dari sesuatu yang bukan aku.”
”Karena itu kau menuntut lebih?”
”Ya, karena pada akhirnya aku membutuhkan motivasi dari luar.”
”Kemana logikamu yang biasa?”
”Logika hanya membungkus rasa, karena semuanya merujuk pada asumsi dasar.”
”Aku lupa, semua orang kau kacaukan dengan logikamu yang tak biasa itu.”
”Haha, kau baru tahu sebagian kecilnya saja.”
”Jadi nanti kau akan kembali pada tema itu?”
”Kalau aku memutuskan untuk melanjutkan, tampaknya ya.”
”Meski tak ada aspek pembangunan?”
”Kau terlalu mempersempit pemahamanmu
atas ruang itu, lagipula bukan wujud yang menentukan sesuatu itu baik atau tidak, tapi apa yang ada di dalamnya.”
”Aku mulai mengerti alasanmu membelanya.”
”Aku memang bisa mencari celah dari dirinya yang bisa dikritisi, tapi aku memilih tak melihat dari sisi itu. Karena itu aku sangat parah dalam memberi kritik, aku memilih untuk melihat dari sisi humanisnya.”
”Seperti pemilihan jurnalisme damai atau perang?”
”Seperti itu. Ya.”

No comments:

The Extra Mile

The difference between good and great is the extra mile. Doing things even when it is not requested  because you care. So when people asked ...