Friday, December 07, 2007

Diam

"Jadi kau akan menerima tawaran itu?"
Ia mengangguk.

Sehelai kelopak bunga ungu mengiringi langkahnya pagi itu. Sudah lama ia tak melewati gerbang itu dengan berjalan kaki. Biasanya ia lebih memilih gerbang belakang, ataupun menggunakan kendaraan. Tapi kali ini ia memilih menapaki kembali jalan itu seperti dulu. Gedung-gedung sudah banyak berubah, bangunan kayu mahasiswa yang dulu berada di tengah kampus kini berganti menjadi bangunan putih yang megah. Dari cerita yang ia dengar, rancangan bangunan itu hendak menambahkan kesan futuristik di kampusnya tercinta, selain bentuk klasik beberapa gedung yang telah ada sebelumnya.

Ia tak pernah mengira akan meninggalkan bangunan-bangunan ini dalam waktu segera. Usahanya untuk bertahan terasa sia-sia. Mimpi-mimpinya yang sempat ia tanamkan dan perjuangkan terasa mentok ketika dihadapkan dengan seseorang yang dulu sempat dekat dengannya. Ruang yang terlalu sempit, atau siapa yang terhebat harus selalu ada?

Bisa saja ia mengungkapkan berbagai teori untuk menjelaskan kondisi yang ada. Tapi ia tak ingin energinya terbuang percuma. Apalagi emosi bukan sesuatu yang bisa dikonstruksi begitu saja. Apalagi jika berkaitan dengan pengakuan dan maskulinitas.

NB: ada yang negrasa ga ya? hehe, lagi mencoba mengkonstruksi sesuatu...

No comments:

The Extra Mile

The difference between good and great is the extra mile. Doing things even when it is not requested  because you care. So when people asked ...