Sunday, December 02, 2007

Cinta Beda

“Kamu sama sekali tidak mengerti.”
”Jadi buat aku mengerti..., please.”

Canggung menggantung. Belum pernah ia mendengar lelaki itu mengucapkan kata permohonan, meski ia pernah menginginkannya setengah mati. Kenapa baru sekarang ia harus mendengarnya, saat ia telah bertekad untuk menyudahi segala yang terjadi. Sekarang. Untuk selamanya.

Jarum pendek menunjuk angka 11, namun dia belum juga beranjak dari depan komputer. Matanya masih asyik memandangi layar monitor yang terhubung internet, membawa imaji melesat meninggalkan ruang yang ditempatinya, meninggalkan rembulan yang memancarkan cahaya temaram di luar sana, dan rentang waktu yang masih tetap belum bisa menjawab pertanyaan mengapa.


Segalanya terasa begitu sempurna. Tawa bersama ketika melihat kucing yang kakinya tersangkut dalam kotak makan, perbincangan serius ketika melihat pengemis dengan tangan buntung, atau menikmati hujan dalam hening. Tanpa perlu berkata, dia sudah tahu apa yang diinginkannya, begitu pula sebaliknya. Saat dia mulai tertelan dalam segala rutinitas yang membuat tawa berdua itu menjadi kian jarang, dia masih menemukan senyumnya, senyum yang dia temukan kali pertama mereka bertemu. Senyum tanda mengerti bukan?


Mulanya ia mengira semuanya akan indah. Binar matanya ketika menceritakan mengenai fenomena semesta dari kelahiran bintang hingga anak jalanan, akhirnya berbuah binar mata yang memutuskannya untuk berpisah. Kecintaannya pada kehidupan tak jua memudar meski keadaan kini sudah banyak berubah. Pernah ia mencoba mengikuti semua yang disukainya, buku, manusia, semesta, diskusi, menenggelamkan diri dalam berbagai kegiatan agar ia memperoleh perhatiannya kembali. Tapi dia malah kian melesat pesat. Apa yang salah?


Hujan. Pikirannya melayang ke beberapa tahun silam. Masihkah dia suka memandangi pemandangan ini? ”Ma, kok mama ngelamun?” Seorang gadis belia berusia 7 tahun menarik tangannya. ”Ngga, sayang, mama ngga ngelamun. Kan mama lagi ngeliatin anak mama yang manis,” sambil mengusap kepala anaknya dengan penuh sayang. Uugh, kenapa bayangan itu masih kerap datang? Padahal kini semuanya sudah berjalan sesuai dengan apa yang ia harapkan. 

Perubahannya membuat dia gundah. 
Akankah dia tetap menjadi pusat hidupnya? Pertanyaan itu terus menghantuinya, pertanyaan yang membuat ia kian larut dalam buku dan ketikan di malam hari. Meski lelah, dan gelisah, aku takkan menyerah.

Pertengkaran menyulut malam itu. Ia baru saja mendapat undangan untuk mengisi sebuah acara, tapi raut mukanya berubah keruh ketika ia mengabarkan berita itu padanya. Padahal yang ingin ia sampaikan padanya hanyalah sebuah pesan singkat, aku mengerti kamu, kamu bisa membagi gelisahmu padaku. Satu-satunya orang yang ingin ia buat bangga malah menyambutnya dengan tatapan dingin. Lalu meluncurlah kata-kata yang tak diinginkan keduanya. Tentang kesibukan, ketakpedulian, dan tiba-tiba menyinggung masalah lelaki lain. Padahal yang ingin ia sampaikan padanya hanyalah pesan, aku sayang kamu.

Dia ketakutan. Pasti ada orang lain. Orang yang membuat ia begitu berubah. Tawanya ketika mendengar dia membicarakan sebuah peristiwa sederhana dengan teori rumit mendekati paranoid, kini tak pernah lagi terdengar. Yang muncul malah sebuah argumen runut dengan sederet tokoh yang belum pernah didengarnya. Darimana ia mendapat semua pengetahuan ini? Perasaan ingin melindungi kini berubah menjadi perasaan tersaingi. 

Ia tak tahu apa yang salah. Usahanya untuk mendekat terasa kian melelahkan. Gelisah yang membayangi wajah lelaki itu belakangan ini tak juga berubah, bahkan kian kelam. Padahal ia akan cukup senang hanya dengan mendengarnya bercerita, dan memberikan masukan. Tapi yang diperolehnya belakangan ini hanyalah tatapan sengit dan aktivitas yang menyita hampir seluruh waktunya.

Akhirnya... sebuah pengumuman yang telah lama dinantikannya datang. Sebuah pembuktian eksistensi diri. Pasti ia akan kembali padaku.

Akhirnya... wajahnya kembali ceria. Senang rasanya melihat perubahan itu. Selanjutnya kehidupan akan kembali seperti semula.

”Selamat ya!” Seorang pria dengan jas rapih menyalaminya. ”Terima kasih,” ucapnya sambil membungkuk dan tersenyum. Sebuah pengakuan dari orang sudah lama dikaguminya, ”Istri Anda telah banyak bercerita mengenai kehebatan Anda.” Dilihatnya wajah istinya yang berbinar-binar mendengar pria itu mengucapkan kalimat tersebut. Sekejap potongan-potongan kejadian yang tak dipahaminya membentuk sebuah gambaran. Rupanya karena ini istrinya berubah. Tanpa mengucapkan kata, ia langsung berbalik. Meninggalkan pria tersebut dengan istrinya yang kebingungan. 

Ia lelah. Kejutan yang dipersiapkannya dengan susah payah, berakhir dengan musibah. Pria yang dihubunginya marah melihat sikap kurang ajar suaminya, dan suaminya kini berubah menjadi orang asing. Padahal yang ingin ia lakukan hanyalah memberi kejutan sebagai hadiah atas keberhasilan suaminya. Karena semuanya akan kembali seperti semula. Seharusnya.

Dia marah. Harusnya malam ini adalah malam miliknya. Malam ketika dia bisa memperoleh tatapan kekaguman dari istrinya kembali, tapi pria yang dulu pernah dia kagumi itu mengubah segalanya. Dia tak habis pikir bagaimana istinya bisa mengenal pria itu. 

Ia masih mencintai lelaki itu.
Dia masih mencintai perempuan itu.

Ia ingin menjawab kata please itu dengan penjelasan panjang. Mulai dari usahanya untuk memahami dunia lelaki yang tak pernah ia mengerti hingga kejutan yang ia kira dapat membuat dia bahagia. Tapi alih-alih menjelaskan, ia hanya bisa tergugu.

Dia ingin mengeluarkan semua kata yang dapat menahannya. Aku masih sangat mencintaimu. Aku akan melakukan apapun asalkan kau tak pergi. Aku akan berubah. Tapi kali ini dia mencoba untuk menahan semua keinginan hatinya. Untuk terakhir kali dia ingin melakukan sesuatu yang benar. Jika dia yang menyebabkan perempuan yang sangat dikasihinya itu menangis, maka satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah melepasnya pergi.“Jadi sampai disini?” tanyanya dengan nada tegar.

Ternyata aku salah. Aku kira masih ada yang perlu dipertahankan dari lima tahun yang kami lalui bersama. Andai saja ada sesuatu yang menandakan dia masih menyayangiku, tapi tatapan matanya begitu dingin. Bagaimana mungkin selama bertahun-tahun aku dapat begitu salah? Aku terlalu mencintainya, padahal dia tak merasakan hal yang sama. Perlahan aku mengangguk.

Aku rela melepasmu jika itu berarti kebahagianmu. Aku rela melakukan semuanya untukmu. Kuharap kau tahu itu.
Semudah itu. Kemana argumen yang kerap dia lontarkan jika ada sesuatu yang mengganjal hatinya? Padahal aku begitu mencintainya. Kuharap kini kau bisa bahagia.

-yuti ariani(04/11/07)

1 Comments:

Anonymous Gerry said...

anda dapatkan ide ini dari mana ?

1:46 PM  

Post a Comment

<< Home