Tuesday, October 30, 2007

Tua

Belakangan ini aku merasa renta. Mungkin karena ada wacana-wacana yang kembali mengemuka, wacana yang kugeluti beberapa tahun lalu. Lampau yang kini sudah nyaris tak terbayang, karena terasa sudah begitu lama. Apakah karena terlalu banyak diskusi dengan orang tua, hingga akhirnya pikiranku menua sebelum waktunya? Semenjak SMA teman bertukar pikiranku memiliki rentang hingga dua digit, kini rentang itu kian memanjang.

Mungkin karena sudah menua pula, tulisanku kini mulai melunak, tak lagi menyalak, galak. Dulu, ada yang menyebutku Bolshevijk muda, hingga ketika membaca tulisanku periode itu, aku nyaris tak mengenalinya lagi, selain nama yang tertera. Namun momen menulis memang proses yang ajaib. Seorang temanku yang lain berujar, diriku dan tulisan seperti melihat dua kepribadian berbeda. Terang/gelap? Entahlah, mungkin karena itu Soedjatmoko mengatakan menulis sebagai proses menyakitkan.

Aku sendiri memandangnya sebagai proses refleksi diri. Mengendapkan segala yang kubaca dari lingkungan sekelilingku. Mencari makna, menggali, merenung, mencoba lebih kuat, belajar banyak dari kisah orang hebat, dan kegilaan-kegilaan aksi mereka hingga tertera dalam sejarah. Acara televisi dari gosip, berita, bencana, hingga movie, buku dari teori hingga fiksi.

Apa yang kucari? Aku tak tahu. Begitu pula kegiatanku belakangan ini yang membentuk deret kesibukan tak hingga. Mencoba mengembangkan dimensi waktuku sendiri agar semua tanggung jawab dapat terlaksana. Mungkin harus sedikit mengambil jeda ketika ada satu kerjaan yang teraniaya, ketika tak lagi dilakukan dengan penuh cinta, dan merugikan orang lain.

Beberapa mimpi yang tak jua lekang, meski dalam lapisan terendah ia masih bisa memilih wujudnya. Seperti halnya semesta raya yang memiliki berbagai lapisan penafsiran, begitu pula mimpi-mimpiku. Aku masih sibuk menjadi, proses pencarian diri yang tak henti.

1 comment:

Anonymous said...

Otak/pikiran memiliki dimensi yang tak terhingga, kita dapat berkelana kemana kita suka. Tapi kehidupan nyata tidak sekedar dalam alam pikiran, perlu ada kaki yang menapak dan tangan yang mengolah. Becerminlah kepada kehidupan sederhana seorang petani supaya ada keseimbangan antara kepala dan anggota badan yang lain.

Jakarta

Satu dekade telah berlalu semenjak aku bekerja di kota itu. "Aku tak mau bekerja di sana lagi," batinku. Rupanya satu dekade adala...