Monday, September 05, 2005

Buku, Cinta dan Kehidupan

Buku itu tersembunyi dibalik tumpukan teenlit dan chicklit. Namun saat aku sudah hendak membayar buku pertama, sebuah nama membuatku tertegun, Susanna Tamaro. Nama itu langsung membawa ingatanku menyelami halaman-halaman buku catatan seorang nenek pada cucunya. Saat aku membaca bagian belakang sampulnya, disebutkan: Buku ini bercerita tentang sifat-sifat jahat, perjuangan untuk hidup tanpa rasa takut, serta pencarian cinta.

Tanpa pikir panjang, akhirnya aku memutuskan untuk membeli dua buah buku. Karena Winn-Dixie(Kate DiCamillo) dan Jawablah Aku(Susanna Tamaro). Teh Ani dalam lingkar studi sastra pernah bertanya, “Apa alasan Yuti membaca buku sastra?” Saat itu aku menjawab untuk menambah wawasan. Namun wawasan itu aku klasifikasikan lagi menjadi beberapa bagian: melatih imajinasi, mengasah kepekaan, membuatku berpikir, mengoyak kemapananku dan merenungkan siapa diriku. Buku-buku yang melatih imajinasi serta kreativitas aku temukan dalam petualangan Harry Potter, Lima Sekawan, Sirkus Pak Galiano, Tintin dll. Kategori ini ringan dan menghibur.

Namun ketika aku berhadapan dengan karya-karya Pram, Umar Khayam, Arundhati Roy, Jhumpa Lahiri aku langsung dihadapkan pada sebuah fakta yang membuatku sangat tidak nyaman. Halaman demi halaman terasa berat, membacanya seperti menelan pil pahit yang tak berkesudahan. Hidup yang dibuka sedemikian rupa hingga memperlihatkan tulang belulang serta batas antara menjadi manusia dan binatang begitu tipis. Dalam kehidupan seperti itu, sangat sulit untuk menentukan benar-salah. Manusia seolah terpatri sedemikian rupa, struktur masyarakat yang menempatkan mereka menjadi baut-baut dalam sebuah mesin raksasa.

Kategori yang ketiga adalah buku-buku yang membuatku berpikir, mengoyak kemapananku, dan merenungkan siapa diriku. Paolo Coelho, Susanna Tamaro, Exupery, Gardner merupakan beberapa pengarang yang bisa membuatku melakukan dekonstruksi terhadap apa yang kurasakan, kuyakini, kemudian kembali menyusun apa yang hendak kulakukan ke depan. Cara kerja buku-buku itu tidak terstruktur, kadang bisa begitu saja lewat tanpa menimbulkan bekas yang mendalam, namun di waktu lain bisa membuatku terhenyak.

Karena semester ini aku mau fokus pada kuliah, aku menargetkan bacaanku hanya boleh yang sifatnya menghibur. Namun ternyata aku salah perhitungan, buku Susanna Tamaro yang aku kira bisa memberikan semangat ternyata membuatku larut dalam perenungan. Apa kau pernah merasa sebuah buku seolah membuka dirimu lapis demi lapis? Beberapa bagian dari buku Jawablah Aku melakukan hal itu.

Kerapuhan manusia, cinta narsistik, serta ketakutan-ketakutan yang membuat manusia justru kehilangan apa yang dipertahankannya mati-matian. Seperti saat ketika kau hendak menggenggam air. Kau mengepalkan tanganmu rapat-rapat agar tak ada sedikit pun yang keluar, tapi kau tahu apa yang terjadi selanjutnya, kau tak mendapatkan apa-apa. Ketika kau menginginkan sesuatu, kau harus cukup berani untuk membiarkan dirinya sebagaimana adanya. Kau harus membiarkan dirinya melihat dunia luar dengan membuka tanganmu dan membiarkan jari-jarimu menampungnya. Begitu pula dengan cinta, kau harus belajar untuk percaya.

Ketiga kisah dalam Jawablah Aku menceritakan orang-orang yang ketakutan akan kehilangan sesuatu yang mereka cintai. Namun sebelum kehilangan sesuatu, sebenarnya mereka telah kehilangan diri mereka. Kau mungkin ingat kisah Narcissus yang jatuh cinta pada bayangannya sendiri. Begitu pula dengan saat kau mulai membuat bayangan ideal mengenai sosok yang kau cintai. Ia bukan lagi sosok bebas, kau telah membalutnya sedemikian hingga ia harus cocok dalam bayanganmu. Kau tanpa sadar telah jatuh cinta pada bayangannya, bayangan yang kau buat dalam kepalamu sendiri. Saat kau melakukan hal itu, kau jadi sering membanding-bandingkan, kau jadi cepat cemas, dan mudah marah. Padahal mungkin kau tak pernah mencintainya, kau hanya mencintai bayangannya yang ada pada dirimu.

Kenapa cinta itu sangat rumit? Tokoh pertama dalam buku itu menyamakan cinta dengan peri. Seiring dengan bertambahnya umur, ia tahu bahwa peri itu tak ada, dan begitu pula dengan cinta. Bisa kau bayangkan hidup yang kelam seperti itu? Kau mungkin akan berkata mengapa ia memilih kehidupan seperti itu? Aku tak bisa berkata banyak, tapi melihat latarbelakangnya aku mencoba untuk mengerti. Ironisnya, saat ia mulai melihat cahaya, sebuah kejadian kembali menghempasnya. Mengapa hidup bisa begitu kejam? mungkin begitu pikirmu. Aku bisa mengatakan bahwa itu hanya cerita, tapi kau tentu tahu, aku hanya mencoba membohongi diriku sendiri, karena dunia nyata jauh lebih kejam.

Aku membutuhkan waktu cukup lama untuk menghabiskan buku setebal 219 halaman tersebut. Beberapa kali kuletakkan buku itu untuk menghirup udara segar, bukan karena kerumitan kata-katanya, melainkan karena kesederhanaannya. Ketika membaca buku Deleuze, Baudrillard, maupun text book wajar kalau kau membutuhkan waktu lebih untuk mencerna segala macam kata baru maupun jalinan logika yang tampak asing. Tapi ketika kau tercenung menghadapi kesederhanaan, dampaknya jauh lebih dahsyat. Kesederhanaan itu mengalir begitu rupa, masuk ke dalam sel darahmu dan melewati setiap inci tubuhmu. Bisa kau bayangkan akibatnya?

Hatimu yang biasa kau ajak bercengkrama, menjadi asing. Untuk mengusik danau yang tenang, kau tak perlu bom atom, kau hanya perlu sebuah batu kecil yang akan menimbulkan riak hingga ketepian. Atau kalau kau ingin contoh yang lebih dahsyat, kau bisa melihat pengaruh kepakan sayap kupu-kupu mampu menimbulkan badai tornado. Tentu saja dengan kondisi-kondisi khusus, tapi kapan kau tahu sesuatu itu khusus atau tidak?

Untung aku tak perlu gelisah terlalu lalu lama. Seiring usainya halaman terakhir, aku melanjutkan membaca buku DiCamillo. Di sampul bukunya tertera Newbery Honor Book, sebagaimana penghargaan serupa untuk buku Di Camillo yang sebelumnya, The Tale of Despereaux. Buku-buku itu tampaknya diperuntukkan buat anak-anak hingga usia 12 tahunan, tapi kadang isinya bisa mengajari lebih banyak hal. Dan entah kenapa, kisah yang aku temui memiliki benang merah dengan buku sebelumnya, yaitu seorang anak yang kehilangan ibunya.

Karena rating umur yang berbeda, sudut pandang keduanya juga lain. Namun keduanya sama-sama mengajarkan sikap untuk menerima, dan melihat segala sesuatu dengan jernih. Aku jadi belajar untuk melihat lapisan-lapisan dimensi. Suatu kali aku pernah bertanya, untuk apa aku sekolah dan melakukan segala rutinitas. Padahal proses kehidupan begitu sederhana: lahir-sekolah-kerja+menikah-meninggal. Apa jadinya jika aku tidak sampai pada salah satu fase dan langsung meninggal, apakah hidupku sia-sia?

Seiring dengan perjalanan waktu, aku mulai belajar bahwa masing-masing fase memiliki definisi kebahagiannya masing-masing. Sama halnya dengan kehidupan tiap orang yang memiliki cara untuk menyalurkan kesedihan dan kegembirannya dalam berbagai bentuk dan warna. Tiap kali bertemu dengan orang baru, lingkungan ataupun kisah manusia yang terangkum dalam teks, aku mulai melihat segala hal dengan kacamata berbeda. Dunia ini begitu luas, dan memiliki banyak kontradiksi. Kadang aku begitu takut kehilangan, namun disaat yang sama aku begitu mudah jatuh cinta.

Hidup ini begitu ajaib, menakjubkan, tapi kadang juga menakutkan. Ya Allah, berikan aku petunjuk-Mu....

7 comments:

zakiakhmad said...

Duuh, kelamaan kuliah di Elektro, aku semakin merasa mati rasa gini. Dasar digital!

Kapan-kapan pinjem (sama dongeng-in) kedua buku itu, ya Ti.

Imponk said...

Hei, sadarkah kamu, mbak, sebenarnya kamu telah dibohongi. Dibuai oleh cerita-cerita usang yang telah dibuat oleh pengarangnya. Begitu memikat bohongan itu, sehingga kamu tidak merasa bahwa kamu sedang dibohongi. Fiksi. Kamu tahu fiksi itu apa? Ia adalah rekonstuksi dari kenyataan yang bohong. Marilah kita sadar bahwa memang ada hidup yang nyata tersekat dari fiksi-fiksi. :D

sherlanova said...

Fiksi memang fiksi. Tapi apalah arti "fiksi" kalau tidak ada dunia nyata?

Soal merasa, saya lagi mencoba utnuk "merasa" kembali. Maksudnya mencoba untuk "tidak mengabaikan perasaan yang timbul meskipun itu rasa sakit". Merasa adalah bagian dari hudip. Kalau rasa itu dibunuh (seperti yang saya udah coba lakukan beberapa tahun), yang ada adalah kematian hati.

Alhamdulillah saya keburu sadar sebelum hati saya mati...

Anonymous said...

Wah, mas imponk(gantian abis pake mbak segala:D), siapa yang bisa menjamin berita yang ada di televisi bukan bagian lain dari fiksi? Kan sudah melewati proses pengeditan juga, jadi udah masuk dalam konstruksi sosial tertentu. Kayanya asyik juga pakai pendapat James tentang pengalam spiritual. Meski ditentang keras sebagai sebuah pembuktian, tapi semua akhirnya balik ke individu. Selama fiksi bisa mempengaruhi dunia non-fiksi, kenapa ngga?

Ternyata dibohongi asyik juga...

-yuti

arief# said...

ada satu buku,
yang selalu memberikan pemahaman "ajaib" mendalam dan penuh hikmah setiap kali ia dibaca...

Kadang buat kita bahagia.
Kadang buat kita begitu merasa... hidup.
Kadang buat kita penuh tekad dan keyakinan.

Sering,
buku itu hanya membuat kita,
menangis.

Sudahkah engkau membaca buku itu, lagi, hari ini... kawan?

Pulau Tidung said...

Cerita cinta emang selalu bikin orang penasaran.
Salam.

Wisata Pulau Tidung said...

Kehidupan ini, ya... cinta ini. Salam dari Pulau TIdung.