Wednesday, December 15, 2004

Kepada yang Telah Tiada

Awan tebal menggelayut manja pada langit. Aku rindu menyapa dunia, ujarnya. Menyapa wajah manusia-manusia yang tengah berduka. Siang itu, mentari pun tampak maklum pada keinginan awan, maka ia pun hanya mengintip dari balik peraduannya.

Beberapa orang melangkah perlahan, menuju tempat terakhir. Tak perlu kau sediakan ratusan meter, dengan batu granit dan marmer halus. Cukup 2x1 dengan tanah coklat, zat yang telah menjadikanku makhluk istimewa. Kini tiba saatnya tanah kembali menjadi tanah.

Wajah-wajah sendu, dengan setetes dua tetes air mata yang tersisa. Wajah ikhlas, semoga itu yang kerabat dan handai taulan hadirkan. Sakit memang sudah menggerogoti badan sejak lama, dan tutup usia menjadi gerbang saat kefanaan makin nyata.

Anak, cucu, ilmu dan pengalaman. Mungkin itu warisan yang tiada terbilang. Orang-orang tersayang akan menggenapkan pengabdian lewat doa, lalu tak ada lagi sesal yang menahan kepergian Opa tersayang menuju Sang Keabadian.

(Dalam kenangan untuk Opa yang meninggalkan kefanaan dunia pada tanggal 14 Desember 2004)

No comments:

Jakarta

Satu dekade telah berlalu semenjak aku bekerja di kota itu. "Aku tak mau bekerja di sana lagi," batinku. Rupanya satu dekade adala...