Wednesday, May 25, 2016

Rumah

"What do you want?"
"A place to call home."
"Can you be less cryptic about it?"
"Aku lelah berpetualang, aku ingin berlabuh. Di sisi lain, kalau pada akhirnya aku memutuskan untuk berlabuh, aku ingin untuk sesuatu yang tepat. Aku tak mau lagi mendapati kasurku kosong atau rumah yang terlampau hening. Aku juga tak mau menghadapi tangisan anak-anak sendirian. Kalau pada akhirnya aku harus melakukan semuanya sendiri, aku lebih memilih hidup sebagai gipsi. Seizing the day, loving as many people as I can and moving on."
"And that is what you are going to do if you don't find the right fit, moving on?"
"Entahlah, hidup berpindah-pindah membuatku sedikit imun dengan rasa sakit. Adakalanya bau, warna atau tempat membuatku teringat dengan seseorang. Kenangan yang sampai kapanpun akan menyengat. Tapi hubungan dengan seseorang tak pernah benar-benar hanya tentang aku; ada dia dan hidupnya yang tak hanya tentang aku. Patah hati adalah salah satu bentuk cinta; cinta yang membebaskan. Untuk bisa berpindah tempat, kau harus ahli dalam hal ini." 
"What is love for you?"
"Entahlah, mungkin aku mencintai terlalu banyak hal. Aku menyukai ide untuk mendapatkan hidup yang stabil, to live with the man I love, to have our own kids and to be able to work on something I love."
"Sometimes you have to compromise ..."
"Yeah, and I do not know what to choose."

Friday, May 20, 2016

Warung Kopi

Sebuah warung kopi dengan ornamen Belanda. Lagu zaman dulu terdengar sayup. Suasana remang. Seorang pria dengan kopi dingin tampak sedang gelisah. Matanya lekat menatap pintu masuk sembari sesekali melihat jam di telepon genggamnya. Raut wajahnya seketika berubah ketika melihat sang gadis masuk. Wajah cemasnya berubah cerah. Ia tersenyum. Sang gadis tersenyum. Mereka bercengkrama sampai pramusaji menanyakan pesanan sang gadis.

"Saya pesan kopi yang paling manis," ujar sang gadis kepada pramusaji. Obrolan pria dan sang gadis terusik. Sang gadis tak tahu harus berkata apa. Ia memang tak suka bercerita, biasanya ia berhasil menghindari kewajiban untuk berkata-kata dengan mengajukan banyak pertanyaan. Dan orang akan mengartikan pertanyaan dengan perhatian. Padahal ia memang lebih senang diam. Sang gadis bermain dengan kertas di hadapannya. Potongan kertas dari bungkus sedotan. Beragam pikiran melintas benaknya tapi ia biarkan mereka tetap di tempatnya. Pria bercerita.

Jam demi jam berlalu. sang gadis takjub dengan bagaimana waktu bisa berlalu demikian cepat. Ia harus pergi. Mereka berpisah.

Thursday, May 19, 2016

Ikra

Sejak pertemuan dengan Rangga dan Kinanti, Kemala tampak menjaga jarak. Ia masih menjawab semua pesan-pesannya, namun jawaban itu lebih terdengar sopan alih-alih hangat. Haruskah ia mengkonfrontasi Kemala mengenai hubungannya dengan Rangga? Tapi kalaupun Kemala mengakui hubungan mereka, lalu apa? Marah, kecewa, cemburu? Kemungkinan terakhir membuatnya tak nyaman. Bagaimana mungkin ia bersaing dengan bayangan?

Salah satu yang membuatnya tertarik dengan Kemala adalah kontradiksi. Tapi ketika ia menjadi bagian dari kontradiksi itu ia merasa tak siap. Ia tak biasa dengan sisi kelam ini. Sunyi yang membentang antara ia dan Kemala, membuat Ikra bertanya-tanya kemana hubungan mereka akan bermuara. Ia bisa saja bertanya, tapi ia takut untuk mendengar jawabannya.

Wednesday, May 18, 2016

Kemala

“Kau tahu apa yang menyebalkan dari semuanya ini? Dunia tampak tak sama lagi. Sunyi tampak terlalu hening, sendiri terasa sepi. Hal yang dulunya biasa kini tampak asing. Seolah-olah kau kehilangan kesetimbangan hanya karena tak mendengar kabar darinya.”

“Tapi kau selalu bisa menyapa duluan bukan?”

“Tentu saja, tapi aku tidak tahu kemana semua ini aku berakhir. Aku takut kalau aku jatuh terlalu dalam aku tak bisa pulih atau setidaknya, tidak dalam waktu singkat. Sekarang saja aku merasa kesetimbanganku telah kacau. Aku tidak yakin aku mau membuat kesetimbangan baru untuk sesuatu yang tidak pasti dan ditentang oleh banyak orang.”

“Always trying to please others are not you?”

“There are moments when I thought I can handle this, that our feelings are the most important thing. We will manage somehow. But with everyone else saying the opposite, it is difficult to keep the positive vibe.”

“So what are you going to say to Ikra?”

“Aku tidak tahu. The good thing about him is that he can see right through me. When we first met, he dared me to go out with him since he knew that for me is always a struggle between routines and dare. Dia tahu aku senang pada hal-hal pasti, struktur yang menjamin semua tindakan impulsifku akan berakhir baik-baik saja. Di sisi lain, dia bisa memancing kebiasaan impulsifku untuk melakukan sesuatu di luar rutin. Aku merasa senang bersamanya, tapi aku tidak tahu apakah dia bisa memberiku rasa aman. Dan yang terakhir itu yang aku butuhkan kalau hubungan ini mau diteruskan.”

Thursday, May 12, 2016

Bercerita

Tampaknya aku mulai kehilangan kemampuan bercerita dengan sederhana. Tentang orang-orang yang aku temui di jalan ataupun hal-hal yang membuatku senang. Jadi sekarang aku akan mencoba untuk memulai lagi. Pagi ini aku memutuskan untuk bekerja di rumah. Hal yang aku suka dari bekerja di rumah adalah aku bebas mengenakan baju apa dan memasang musik. Belum juga lama membaca paper yang harus aku review, aku mulai merasa bosan. Pergi ke pasar tampaknya jauh lebih menarik dibandingkan duduk menghadapi layar monitor.

Aku kayuh sepedaku yang reyot ke pasar. Beberapa pedagang tampak sudah bersiap-siap pulang. Tapi pedagang buah dan bunga tampak masih lengkap hingga batas akhir yang ditentukan. Ketika tengah melihat-lihat buah, seorang pedagang menawarkan strawberi padaku. Satu strawberi gratis berganti menjadi dua keranjang strawberi padahal awalnya hendak membeli strawberi dan jeruk. Aku melanjutkan perjalan ke pedagang bunga. Dari Sabtu lalu, aku bimbang antara memilih bunga tulip atau peoni. Untunglah pedagang bunga di pasar Rabu tak memiliki bunga peoni, jadi aku keluar dari pasar dengan 30 tangkai bunga tulip.

Pekerjaan berikutnya adalah mencari vas bunga ke Action, toko yang menjual segala macam peralatan rumah tangga. Setelah mencari beberapa kali, akhirnya aku menemukan vas bunga yang kucari. Dulu, vas bunga dijual tanpa kotak, tapi kini semuanya menggunakan kotak karena itu pada putaran pertama aku gagal menemukan apa yang aku cari.

Pulang ke rumah aku langsung memindahkan bunga ke vas. Tapi ternyata 30 tangkai tulip terlalu banyak untuk masuk ke vas yang sempit. Gara-gara itu ada beberapa tangkai yang patah. Mungkin lain kali aku tidak boleh terbujuk rayu penjual bunga yang menawarkan diskon 1 euro untuk 3 rangkaian bunga. Dan mungkin juga tidak boleh tergoda penjual strawberi karena niatnya mau membeli jeruk.

Saturday, May 07, 2016

Gypsy

You know your gypsy life is over when ...
You start to attach to someone
You forget the meaning of substitution since right only has one face
Your day would be incomplete without knowing he is alright

Thursday, May 05, 2016

Rapuh

"Kau tampak tidak bahagia ..."
"Aku merasa rapuh. Aku menyukainya, mungkin sedikit terlalu dalam dan aku tidak tahu kemana ini akan bermuara."
"Apa menurutmu dia menyukaimu?"
"There were moments when he just looked at me for couple of seconds and then smile. I am not worried about his feelings, I am more worried about him and I. Aku tidak pernah menyapa seseorang terlebih dahulu pasca pertemuan pertama, aku tidak pernah menyatakan perasaanku duluan dan aku tidak biasa dengan segala inisiatif untuk mengajaknya untuk bertemu. Semua ini menghabiskan energiku karena aku tidak biasa mengejar. It's out of my character. Di sisi lain, mendengar kabarnya atau melihat wajahnya membuatku bahagia. Kontradiksi ini membuatku merasa rapuh."
"Jadi apa yang kamu inginkan?"
"Antara memutuskan hubungan dan memberi tenggat."
"Kabur seperti biasa?"
"Aku tidak tahu ... aku ingin ini bisa berlanjut tapi kondisi tampak tidak berpihak pada kita berdua. Aku tidak suka hubungan jarak jauh."
"Harga mati?"
"Entahlah."
"Kamu pernah membicarakan ini dengannya?"
"Tidak dan aku tidak mau memulainya. Aku benar-benar akan membenci diriku jika harus selalu memulai."